Pandemi Covid-19 Pengaruhi Perekonomian Masyarakat Indonesia

  • Whatsapp

Tajukutama.com, Makassar – Kabar tentang virus corona ini sangat mendominasi pembicaraan di tengah masyarakat. Virus Corona tidak hanya mengakibatkan ribuan orang meninggal dunia. Namun juga mengakibatkan perekonomian anjlok di sejumlah negara.

Hal ini disebabkan karena ditutupnya berbagai penerbangan dan dibatalkannya beberapa acara internasional sehingga memperlambat perputaran perekonomian. Tidak hanya itu, wabah corona juga mengusik ketenangan kondisi pasar keuangan, yang menyebabkan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar.

Bacaan Lainnya

Akibat penyebaran virus Corona yang tersebar di seluruh dunia, banyak negara yang menerapkan kebijakan lockdown dan pembatasan aktivitas publik. Banyak perkantoran dan perindustrian yang harus ditutup akibat adanya kebijakan ini. Selain itu banyak sekolah dan kampus yang diliburkan sementara untuk menahan laju perkembangan virus Covid-19 ini.

Akan tetapi dengan adanya pembatasan ini, perputaran roda ekonomi tentu saja sangat menurun dan bahkan bisa mengakibatkan terjadinya resesi.

Sebagai informasi, wabah virus corona terus meluas dan makin mengkhawatirkan. Informasi tentang virus ini memang mesti dipahami oleh semua orang mengingat kasus positif Covid-19 yang masih tinggi di berbagai negara. Rupiah bereaksi terhadap tekanan domestik dan asing, yang merupakan dampak dari penyebaran Covid-19 di Indonesia.

Pemicunya adalah karena tidak ada stigma positif mengenai penanganan Covid-19, yang dapat menenangkan pasar secara psikologis, sehingga memengaruhi iklim investasi dan menghambat perekonomian. Jika kita membahas tekanan asing, kelemahan dipengaruhi oleh ketergantungan suatu negara pada perdagangan internasional dengan negara lain, efek kebijakan moneter dan fiskal negara lain, dan integrasi dalam pasar keuangan dunia. Covid-19 yang saat ini melanda dunia menyebabkan efek penularan dimana saat ekonomi suatu negara lesu, itu akan berdampak pada perekonomian negara lain.

Bank Indonesia (BI) mengakui virus corona telah memberi dampak negatif terhadap perekonomian, khususnya pada nilai tukar rupiah dan harga saham. Namun Bank Indonesia (BI) mencatat nilai tukar rupiah tetap terkendali didukung langkah-langkah stabilisasi Bank Indonesia. Per 12 Oktober, nilai tukar rupiah kembali menguat 1,22 persen atau 0,34 persen secara rerata dibandingkan dengan level September 2020.

“Pada September 2020, rupiah tercatat melemah 2,13 persen dipengaruhi tingginya ketidakpastian pasar keuangan, baik karena faktor global maupun faktor domestik. Pada awal Oktober 2020, nilai tukar rupiah per 12 Oktober kembali menguat 1,22 persen atau 0,34 persen secara rerata dibandingkan dengan level September 2020,” terang kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry dalam video konferensi Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan BI – September 2020, Selasa (13/10/2020).

Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS yang ditransaksikan antar bank di Jakarta melemah seiring terus meningkatnya jumlah kasus positif virus corona, Covid-19.

“Harga aset berisiko masih mendapatkan tekanan dari peningkatan penyebaran virus corona di dunia,” kata Kepala Riset Monex Investindo Futures di Jakarta, Rabu.

Dilansir dari Bloomberg, Jumat, Oktober 2020, nilai tukar rupiah pada perdagangan dibuka tertekan ke Rp14.699 per USD. Nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp14.699 hingga Rp14.707 per USD. Sedangkan menurut Yahoo Finance, nilai tukar rupiah berada di posisi Rp14.543 per USD. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan, terpantau melemah tipis ketimbang hari sebelumnya di posisi Rp14.690 per USD.

Mata uang Garuda gagal menghantam mata uang Paman Sam meski terdapat katalis positif berupa maraknya berita tentang obat Covid-19 di Tanah Air. Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 14.695 per dolar AS hingga 14.746 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 6,32 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 14.793 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan patokan sebelumnya yang ada di angka 14.746 per dolar AS.

“Rupiah akan mendapatkan market mover dari peristiwa dalam negeri hari ini. Pelaku pasar akan mewaspadai aksi demo yang terjadi hari ini,” kata Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra di Jakarta, dikutip dari Antara, Selasa (13/10/2020).

Selanjutnya ke depan rupiah masih akan tertekan. Meski begitu, Alwy menilai upaya itu hanya berlangsung sementara. Pasalnya, virus corona  belum menunjukkan tanda-tanda usai. Apabila telah mereda, Alwy memprediksi dampak virus corona masih akan dirasakan oleh Indonesia. Imbas dari wabah virus corona tentu akan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia di kuartal I sehingga akan mempengaruhi pergerakan rupiah ke depan.

“Jika PDB kuartal I melambat, penyebabnya adalah efek virus corona,” kata Alwy.

Melihat kondisi itu, Alwy menghitung rupiah di kuartal I akan bergerak di rentang Rp 14.585 per dolar AS–Rp 15.000 per dolar AS. Sementara, di akhir tahun diprediksi akan bergerak di kisaran Rp 14.130 per dolar AS.

Wabah Covid-19 memang memberikan dampak yang sangat besar di berbagai sektor seperti ekonomi, sosial, politik dan pendidikan. Semoga pandemi Covid-19 dapat segera teratasi untuk mendukung laju pertumbuhan ekonomi negara kita dan masyarakat dapat kembali menjalankan sosial-ekonomi seperti biasanya dan dapat menjalankan fungsi sosial sebagai masyarakat dan individu pada umumnya, karena pada hakikatnya manusia adalah mahluk sosial.

Penulis: Herli Yulianti (JurusanAkuntansi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar)

banner 640x70

banner 640x70

Pos terkait