Keras Kepala Dalam Islam

  • Whatsapp

Tajukutama.com, Makassar – Keras Kepala merupakan suatu sifat yang hampir dimiliki oleh manusia. Dalam Islam juga menyinggung terkait sifat keras kepala. Berdasarkan firman Allah SWT dalam QS: Al Kahfi: 54, yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulangi bagi manusia dalam Al Quran ini bermacam-macam perumpamaan. Dan manusia adalah makhluk yang paling banyak membantah. (TQS: AL Kahfi: 54).

Surah tersebut sekiranya pas jika disematkan pada orang-orang yang bebal, meletakkan nafsunya di atas akal. Sehingga tak heran jika perutnya mampu memakan hutan dengan rakusnya. Coba dech saya ingatkan lagi kisah paman Rasulullah Saw, yang dengan sombongnya menentang dakwah Rasulullah Saw, sehingga kisahnya diabadikan dalam Surah Al Lahab.

Pengingkaran Abu Lahab terhadap kenabian Muhammad Saw membawa bukti bahwa kebenaran Islam itu nyata. Abu Lahab sangat tau bahwa Al Qur’an telah tersurat bahwa Ia akan masuk ke dalam neraka, namun karena ketidak percayaannya membuatnya terus menjadi musuh Islam.

Andai waktu itu dia mau membela Islam dan mendukung Rasulullah Saw, maka dia bisa membantah ketidak benaran Islam. Namun kedahsyatan Al Quran tidak dapat terbantahkan sehingga apapun yang tersebut di dalamnya merupakan fakta dan pasti terjadi.

Inilah satu kisah yang dapat menjadikan kita tidak boleh berhenti berpikir. Bahwa kehidupan di dunia hanya tempat meraup amal sebanyak-banyaknya guna menuju kehidupan abadi akhirat kelak. Manusia memang makhluk yang banyak membantah pada Tuhannya, oleh karenanya mengapa Allah selalu ingatkan kita, keras kepala pun menjadi kelemahan manusia, dan sebagian orang mengatakan “Kepala Batu”.

Namun jika kita melihat dari sudut pandang yang positif maka keras kepala diperlukan jika kita menyampaikan suatu kebenaran. Jika tidak, maka yang ada kekalahan akan didapat sebagai buah dari hasil.

Semoga ini menjadi motivasi kita semua. Karena tulisan ini dibuat dalam rangka mengasah kemampuan pena di segala genre yang mari kita coba kuasai. Sehingga keistiqomahan terus ada pada diri kita, sehingga tidak memberikan kesempatan untuk gantung pena.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.[]

Penulis: Nur Rahmawati SH

banner 640x70

banner 640x70

Pos terkait