Seribu Bibit untuk Negeri, Kepemimpinan Hengky Soetioso Bawa Sepeda Toa Makassar Gaungkan Gerakan Hijau

Tajukutama, MAKASSAR — Dari Timur Indonesia, sebuah gerakan lingkungan yang digerakkan oleh kekuatan komunitas kembali mencuri perhatian. Di bawah kepemimpinan Ketua Sepeda Toa Makassar (STM) Hengky Rachmat Jaya Soetioso, aksi penanaman 1.000 bibit lombok dewata, terong, dan jahe emas pada Rabu (11/2/2026) menjelma lebih dari sekadar kegiatan sosial, ia menjadi simbol kepemimpinan visioner yang mengubah kepedulian menjadi tindakan nyata.

Sejak pagi, anggota STM memadati Jalan Bougenville dengan mengenakan kaos “STM Peduli”. Kehadiran mereka bukan hanya menunjukkan solidaritas, tetapi juga mencerminkan kuatnya arah gerakan yang dibangun Hengky: komunitas harus hadir sebagai solusi bagi lingkungan dan masyarakat.

Bagi Hengky, menanam pohon berarti menanam masa depan. “Kita mungkin tidak langsung menikmati hasilnya hari ini, tetapi generasi setelah kita akan merasakannya. Tugas kita adalah memastikan bumi tetap layak dihuni dan sumber pangan tetap terjaga,” tegasnya.

Kegiatan yang mendukung program Pemerintah Kota Makassar “Tanami Tana’ta” ini menjadi bukti bahwa kepemimpinan berbasis aksi mampu menggerakkan banyak pihak. Setelah penanaman tahap awal, rombongan bergerak ke Jalan Pelita untuk penyerahan bibit dan prosesi tanam secara simbolis sebelum melanjutkan kegiatan di kawasan Kelompok Tani Jalan Danau Tanjung Bunga, Kelurahan Maccini Sombala, Kecamatan Tamalate.

Di lokasi tersebut, STM tidak hanya menyerahkan bantuan, tetapi juga mengajak masyarakat turun langsung penanaman bibit, sebuah pendekatan partisipatif yang selama ini menjadi ciri khas gerakan Hengky. Ia percaya keberlanjutan tidak lahir dari instruksi, melainkan dari keterlibatan bersama.

Pengelola Kelompok Wanita Tani (KWT) Bidara, Jonli, mengaku terharu melihat konsistensi STM. Menurutnya, bibit yang ditanam adalah harapan baru bagi lingkungan sekaligus penegasan bahwa masyarakat tidak berjalan sendiri dalam menjaga alam.

Dampak kepemimpinan Hengky juga menarik perhatian berbagai tokoh nasional. Fadly, vokalis Padi Reborn sekaligus pendiri Yayasan Butta Porea Indonesia, turut hadir dan memberikan apresiasi.

“Ketika seorang pemimpin komunitas mampu menggerakkan banyak orang untuk peduli lingkungan, itu adalah kekuatan besar. Gerakan seperti ini layak menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia,” ujarnya.

Senada dengan itu, Ketua Yayasan Butta Porea, Andi Pangerang Nur Akbar, S.STP., M.Si., menilai langkah STM sebagai investasi ekologis jangka panjang. Kolaborasi antara komunitas, tokoh publik, dan masyarakat, katanya, merupakan formula penting dalam menciptakan perubahan berkelanjutan.

Apresiasi juga datang dari Camat Tamalate, Muhammad Aril Syahbani Kahar, S.IP., yang menyebut STM sebagai komunitas pelopor dalam mendukung program lingkungan sekaligus memperkuat ketahanan pangan lokal. Pemerintah kecamatan pun berkomitmen memberikan edukasi dan pendampingan agar kelompok tani dapat berkembang secara mandiri.

Namun di balik seluruh rangkaian kegiatan, satu pesan kuat terus digaungkan Hengky. “Perubahan tidak menunggu skala besar, ia dimulai dari keberanian untuk bergerak,” serunya.

“Kami ingin STM menjadi pemantik gerakan nasional. Jika satu komunitas bisa menanam seribu bibit, bayangkan dampaknya bila ribuan komunitas melakukan hal yang sama,” katanya optimistis.

Di tengah tantangan perubahan iklim dan krisis pangan global, kepemimpinan Hengky Rachmat Jaya Soetioso menunjukkan bahwa komunitas memiliki daya transformasi yang nyata. Dari Makassar, ia menyalakan harapan bahwa masa depan hijau Indonesia dapat tumbuh dari tangan-tangan yang mau bekerja, peduli, dan bersatu.

Seribu bibit mungkin terlihat sederhana. Namun bersama kepemimpinan yang kuat, ia menjelma menjadi pesan besar bagi negeri: masa depan selalu dimulai dari mereka yang berani bertindak hari ini. (*Rz)

ads
ads ads

Comment