Catatan Kecil Ketua PWI Soppeng, Alimuddin, Usai Dilantik

ads

 

Penulis : Alimuddin

ads

Hari ini baru saja kami dilantik menjadi Pengurus PWI Kabupaten Soppeng Masa Bakti 2021 – 2024 oleh Ketua PWI Prov. Sulsel, tepatnya, Rabu, 13 Juli 2022 di Ruang Pola Kantor Bupati Soppeng ini.

Hari ini tuntas sudah tugas panitia Konferkab PWI Soppeng yang diketuai Lukman Sulaeman selaku Organizing Committee dan saya sendiri selaku Sterring Committee.

Jika diibaratkan pernikahan, maka di Konferkab pada Sabtu, 18 Desember 2021, saya sudah akad Nikah sebagai Ketua Terpilih PWI Kab. Soppeng secara aklamasi.

Pada tanggal 31 Mei 2022, Surat Keputusan (SK) Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat tentang Pengukuhan Susunan Personalia Pengurus PWI Kabupaten Soppeng Masa Bakti 2021-2024 sudah terbit, artinya buku nikah kami sudah terbit dari Kantor Urusan Agama (KUA). Maka secara defakto dan legal konstitusional formal sudah terpenuhi. Hari ini baru digelar pesta perkawinan kami.

Dalam Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga PWI tak satu pun pasal atau ayat yang mengatur kalau sekurang-sekurangnya sekian hari pasca Konferkab, SK PWI Pusat tentang kepengurusan harus diterbitkan. Sehingga Konferkab yang lalu tidak ditemukan cacat yuridis.

Saya menghargai dan saya sangat menghormati jika hasil Konferkab ini ada yang setuju dan ada yang tidak setuju. Tetapi dengan terpilihnya saya secara aklamasi, lebih memberikan spirit bagi kami untuk merapatkan barisan dalam membenahi, menjalankan roda organisasi PWI, karena Konferkab adalah institusi tertinggi dalam lingkup PWI Kabupaten (BAB IV KONGRES DAN KONFERENSI Pasal 12 Ayat (3).

Selaku ketua, saya sadar. Kalau saya tercipta menjadi Ketua PWI karena saya diciptakan oleh Anggota – Anggota PWI.

Saya ini diciptakan, yang menciptakan saya adalah Anggota PWI. Artinya, proses untuk menjadi Ketua tidak tercipta begitu saja. Para teman – teman saya adalah PENCIPTA dan Ketua adalah DICIPTAKAN. Jika diibaratkan dengan penciptaan manusia. Maka manusia yang diciptakan Tuhan wajib menyembah kepada penciptanya Allah SWT. Bukan Tuhan sebagai pencipta yang menyembah kepada manusia yang telah diciptakannya.

Ketualah yang melayani anggota bukan anggota melayani ketua.

Dari proses penciptaan itu selaku Ketua, sayalah yang wajib melayani kepada yang menciptakan saya jadi ketua. Ijinkan saya meminjam ungkapan Pak Bupati Soppeng pada Pilkada lalu di beberapa kesempatan kampanyenya.

Beliau akan berupaya memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat Soppeng untuk menjadikan jabatannya itu sebagai amal jariah.

Saya pun berupaya maksimal memberikan pelayanan kepada anggota-angggota PWI untuk menjadikan jabatan saya ini sebagai amal jariyah.

Mengenai persepsi berbeda, saya kira itu lumrah, karena masing – masing anggota memiliki latar belakang pengalaman berbeda. Bentuk kepala kita saja berbeda, tentu susunan saraf dan otak kita di dalam kepala juga berbeda. Tetapi bukankah perbedaan itu adalah hikmah.

Ibarat Taman Bunga, tidaklah indah dipandang jika hanya didominasi satu warna. Tetapi alangkah indahnya jika taman itu dihiasi dengan bermacam-macam warna bunga, hingga mampu memancarkan sinar keindahannya membuat penikmatnya lebih bergairah dalam menikmati hidupnya.

Saya juga sadar, Tuhan saja tidak marah ketika malaikat Jibril mengkritik-Nya, saat Tuhan menyampaikan, hendak menciptakan manusia. Malaikat Jibril seolah tidak setuju atau keberatan dengan mempertanyakan, untuk apa manusia diciptakan yang berpotensi saling bertikai.

“Apa kurangnya kami sebagai malaikat-Mu, bahkan seluruh hidup kami adalah untuk bertasbih dan bersujud kepada-Mu.”

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya, “(Ingat) ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat, ‘Aku ingin menjadikan khalifah di bumi.’ Mereka bertanya, ‘Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana ? Padahal, kami bertasbih memuji dan menyucikan nama-Mu.’ Allah berkata, ‘Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kalian ketahui, (Surat Al-Baqarah ayat 30).

Rekan-rekan insan pers di Kabupaten Soppeng, khususnya yang bernaung di bawah panji-panji PWI adalah bagian tak terpisahkan dari masyarakat Kabupaten Soppeng, maka di mana bumi dipijat, disitulah langit dijunjung tinggi.

Saya mengajak, dengan pikiran inovatif kita, Mari kita warnai PWI Soppeng membantu pak Bupati dan Pak Wakil Bupati melaksanakan program pembangunan, kemasyarakatan dan pemerintahannya.

Sebagaimana janji saya sesaat usai terpilih, di Konferkab lalu, program prioritas kami adalah melaksanakan dan atau mengikutsertakan anggota PWI pada Pelatihan Jurnalistik di semua jenjang pelatihan dan Ujian Kompetensi Wartawan (UKW).

Ini dilakukan untuk memanusiakan manusia dan mewartawankan wartawan.

Kepada sesama wartawan, ijinkan kami menyampaikan ungkapan yang pernah saya dengar dari orang lain.

“Orang yang berfikir besar akan bercerita tentang Ide atau gagasan.

Orang yang berfikir menengah akan bercerita tentang peristiwa.

Dan orang yang berpikir kerdil akan bercerita. tentang orang lain.”

Ada yang perlu direnungkan sebelum kita menulis

“Tutupilah aib orang lain, sehingga aibmu pun disembunyikan.

Maafkanlah dosa orang lain, agar dosamu juga diampuni.

Jangan singkapkan kesalahan orang lain, agar hal yang sama tidak terjadi padamu.”

Jika memang terpaksa ditulis, itu tidak lain karena dengan niat untuk keselamatan pemerintahan, kemasyarakatan dan pembangunan.

“Ingat, bantuan Allah yang didambakan akan datang melalui kerja sama antara manusia. Allah menuntun setiap makhluk kepada apa yang perlu dimilikinya dalam rangka memenuhi kebutuhannya.

Sebab itu, jangan engkau merasa gundah terhadap segala sesuatu yang terjadi padamu karena semuanya sudah atas izin Allah. (Quraish Shihab).

“Dari pada
mengungkit-ungkit masa lalu yang telah berlalu dan membuat hati jadi pilu. Lebih baik merenda masa depan yang menjanjikan harapan.

Karena kesempatan menjadi lebih baik hanya ada di hari esok. Maka janganlah membiarkan masa lalu menjadi lembaran hidup di masa datang.” (dikutip dari akun facebook Andi Damis Dadda, S.H., M.Si., Sidrap).

ads

Comment