Opini: Save Al-Aqsha from Zionist

ads

Tajukutama.com, Makassar – A’touna Et-Tufoole. A’touna Et-Tufoole. A’touna Et-Tufoole. A’touna, A’touna, A’touna Es-Salam.

Potongan lirik lagu karya Remi Bandali ini pasti sudah tidak asing ditelinga kita. Perasaan haru ketika memaknai liriknya sangatlah wajar apalagi kita yang mengaku sebagai seorang muslim. Muslim yang meyakini hanya Islam agama yang rahmatan lil ’alamin yakni bersifat ramah dan penuh kasih sayang, mengayomi dan melindungi seluruh alam, baik manusia maupun makhluk lainnya. Namun, realitanya hari ini Islam tidak menjadi rahmatan Lil alamiin. Berbagai penindasan, penganiayaan,  dan malapetaka lainnya menimpa Ummat Islam di seluruh dunia.

ads

Dibelahan bumi bagian Timur Tengah kembali menjadi headline news, Kaum Muslim diserang oleh Israel di Yerusalem. Penyerangannya mengakibatkan lebih dari 150 warga Palestina terluka dalam bentrokan dengan polisi Israel di kompleks Masjid al-Aqsa (BBC NEWS, 15/04/22). Dan sedikitnya 450 orang ditangkap ketika pasukan Israel menembakkan peluru baja berlapis karet, gas air mata, dan granat kejut di dalam halaman dan aula Masjid Al-Aqsha.

Lembaga layanan medis darurat Bulan Sabit Merah Palestina mengatakan, telah mengevakuasi sebagian besar korban luka ke rumah sakit. Mereka pun menyebut, pasukan Israel menghalangi kedatangan ambulans dan paramedis ke masjid, ketika media Palestina mengatakan puluhan jemaah yang terluka masih terperangkap di dalam kompleks.

Di dalam kompleks al-Aqsa, terdapat masjid yang menjadi situs tersuci ketiga dalam Islam. Sementara itu, di kompleks tersebut juga terdapat tempat paling suci yang diyakini oleh Yahudi, yakni Temple Mount.

Tahun ini hari raya umat Islam, Kristen, dan Yahudi saling bersinggungan. Umat Islam menjalankan puasa Ramadhan. Sementara umat Yahudi dan Kristen merayakan Paskah. Masing-masing jamaah berbondong-bondong mendatangi situs suci mereka untuk beribadah, setelah pembatasan Covid-19 dicabut.

Persoalan Al-Aqsha adalah satu diantara persoalan yang mendera kaum muslim tatkala Institusi Daulah Islam dibubarkan pada 3 Maret 1924. Sejak saat itu, Ummat telah kehilangan perisai. Jangankan harta, nyawapun terancam oleh kekejaman para penguasa yang tidak berkeprimanusiaan.

Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya, negara Palestina tidak pernah merasakan  keamanan dalam negerinya. Israel terus melangsungkan kebrutalannya hingga tujuan utamanya tercapai yakni menguasai tanah Palestina secara utuh.

Namun, ummat Islam juga tetap bertahan meski nyawa mereka terancam sebab tanah tersebut sudah menjadi warisan kaum Muslim yang dengan susah payah didapatkan. Ummat Islam telah berjihad demi kepentingan tanah tersebut dan mereka telah menyiraminya dengan darah mereka.

Solusi PBB efektifkah?

PBB sebagai lembaga internasional diklaim bertanggung jawab menjaga keamanan dan perdamaian internasional, melindungi hak asasi manusia, dan menegakkan hukum internasional.

Tercatat sejak tahun 1947 sampai tahun 2021, sudah 181 resolusi PBB yang berhubungan dengan eksistensi Israel di Palestina (Kompas.com). Namun, konflik Israel dan Palestina belum juga menemukan titik terang, hanya berakhir dalam perundingan dan negosiasi. Alhasil, kekejaman juga terus berlangsung hingga adanya solusi yang hakiki dalam menyelesaikan persoalan tersebut.

Solusi Islam

Palestina merupakan negeri Islam yang ditaklukkan secara damai oleh Daulah Khilafah Islamiyyah pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Berkaitan dengan tanah Palestina, terdapat klausul yang jelas mengenai status Yahudi. Disitu termaktub : Dan tidak seorang pun dari orang Yahudi boleh tinggal di Lliya. Ketentuan ini berlaku hingga hari kiamat. Berdasarkan klausul tersebut kaum Yahudi tidak boleh tinggal di Palestina. Terlebih dengan cara merampas dari pemiliknya, mengusir penduduknya, dan mendirikan negara yang berkuasa diatasnya.

Dengan melihat fakta akan status tanah Palestina, maka tidak akan terjadi perdebatan dikalangan ummat siapa yang berhak memiliki tanah Palestina dan bagaimana solusi yang hakiki dalam menyelesaikan konflik tersebut.

Hari ini Ummat Islam tidak memiliki institusi Daulah Islam. Tidak ada tameng yang menjaga perbatasan negeri-negeri Islam. Kaum muslim tercerai berai oleh ide Nation State. Sehingga, penguasa-penguasa negeri Islam hanya diam membisu melihat persoalan Palestina, bahkan justru memberi dukungan akan eksistensi berdirinya negara Israel. Mereka meridhai keberadaan negara yang berdiri diatas tanah yang dirampas dari kaum muslim.

Padahal Allah SWT telah mengingatkan;

“Allah tidak melarang kalian untuk berbuat baik dan berbuat adil kepada orang yang tidak memerangi kalian dan tidak mengusir kalian dari negeri-negeri kalian. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang adil. Namun Allah melarang kalian untuk membantu orang-orang yang telah memerangi kalian, mengeluarkan kalian dari negeri kalian dan berupaya untuk mengeluarkan kalian. Barangsiapa yang menolong mereka mereka adalah orang-orang yang zalim.”  (QS.Al-Mumtahanah: 8-9)

Maka, urgensi Institusi Daulah Islam saat ini sangat perlu diperjuangkan agar Islam menjadi rahmatan Lil alamin. Sebab, hegemoni Barat di bawah AS terus berlangsung tanpa ada perlawanan berarti dari Umat Islam. Dengan adanya Institusi, maka kehormatan Islam dan kaum muslim akan terlindungi, perbatasan negeri-negeri Islam akan terjaga, potensi ummat Islam akan bersatu, dan akan dikumandangkannya jihad fi sabilillah melawan negera-negara kafir seperti Israel dan mengusir mereka dengan penuh kehinaan dari tanah-tanah kaum muslim.

Wallahu a’lam bis shawab.

Penulis: Andi Sriwahyuni,S.Pd (Pemerhati Ummat)

ads

Comment