Petani Panciro Kian Bergairah, Produksi Gabah Kering 18 Ton/Ha dalam Setahun

ads

Tajukutama.com, Gowa – Kini petani Desa Panciro, Kecamatan Bajeng, Kabupaten Gowa kian bergairah dan bersemangat. Betapa tidak, produksi GPK (Gabah Panen Kering) mereka dapat meningkat hingga mencapai rata rata 6 ton per hektare (Ha) selama satu kali panen. Sementara petani di Panciro panen tiga kali berarti hasil produksi GPK tersebut mencapai 18 ton/Ha dalam satu tahun.

Demikian diungkapkan Kepala Desa Panciro Anwar Malolo, SE saat menerima tenaga PPL (Penyuluh Pertanian Lapangan) Desa Panciro, Murdiati, SP, dalam upaya verifikasi sekaligus memperbaruhi nama-nama Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) beserta anggotanya yang berdomisili di Desa Panciro serta memastikan para petani untuk mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah melalui Kementerian Pertanian setelah namanya ada dalam daftar Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK), Senin 6 September 2021 di ruang kerjanya.

Anwar Malolo yang didampingi Sekdes Panciro Abd Rahman Rani dan Dg Gassing (Sekretaris Gapoktan Baji Pa’mai Panciro) mengatakan, beberapa tahun terakhir ini petani khususnya penggarap sawah kian bergairah dan bersemangat karena bisa memproduksi gabah kering panen antara 5 sampai 6 ton perhektare dalam sekali panen dengan menggunakan air irigasi dan sistem pompanisasi. “Petani Panciro berhasil panen GKP tiga kali selama setahun. Jika diratakan 6 ton GKP setiap panen dengan tiga kali panen setahun, maka produksi GKP mencapai 18 ton perhektare dalam setahun, ini sebuah pencapaian hasil yang cukup signifikan,” jelas Anwar Malolo.

ads
ads

Penjelasan serupa juga datang dari Murdiati. Hanya saja dia mengatakan, apabila kegiatan panen dan cuaca (iklim) dalam kondisi normal, petani Desa Panciro dan sekitarnya bisa mendapatkan produksi GKP hingga 8 ton/Ha satu kali panen. “Pencapaian produksi GKP yang normal dan meningkat itu, harus dibarengi dengan pemberian pupuk secara tepat dan teratur. Kondisi ini menjadi tugas kami untuk terus memberikan fungsi penyuluhan dan edukasi kepada petani melalui wadah Gapoktan,” ujar jebolan alum nus S-1 Fakultas Pertanian Unhas 2004 ini.

Di Panciro, sebutnya tercatat 11 Gapoktan dengan jumlah anggota bervareasi antara 25 sampai 40 orang. Mereka inilah yang berhak mendapatkan pupuk bersubsidi dari pemerintah. “Penetapan anggota Gapoktan untuk mendapatkan bantuan pupuk bersubsidi dari Kementerian Pertanian. Inilah yang dijadikan dasar mereka untuk mengambil atau membeli pupuk di pihak pengecer dengan harga yang murah sesuai kebijakan pemerintah, ” papar Murdiati.

Tidak hanya itu, dia juga menjelaskan, petani yang bisa mendapatkan pupuk bersubsidi telah ada namanya dalam RDKK. Itu juga berdasarkan domisili petani. “Petani Panciro yang memiliki lahan sawah dalam wilayah Panciro dan luar Panciro bisa mendapatkan pupuk bersubsidi asal bergabung dalam satu Gapoktan yang berdomisili di Panciro. Sebaliknya petani dari luar Panciro tapi punya lahan sawah di Desa Panciro tidak berhak rnendapatkan pupuk bersubsidi karena sudah tercatat di salah satu Gapoktan di mana wadah itu dan petani tersebut dapat berdomisili. Seperti itulah sistem dan mekanismenya telah diatur dalam RDKK,”jelas Murdiati.

Dalam RDKK dan lembaran matriks Gapoktan Desa Panciro Tahun 2021 ini luas areal sawah yang digarap oleh 11 Gapoktan di Panciro sekaligus penerima pupuk bersubsidi seluas 156, 50 Ha. Murdiati mengklaim lahan garapan yang seluas itu adalah yang diupayakan (lahan potensial) termasuk lahan sawah yang berada di luar wilayah Desa Panciro tapi pemiliknya adalah warga Panciro sendiri yang tercatat dan terdaftar dalam Gapoktan di Panciro.

Sedangkan, Anwar Mololo menyebutkan luas wilayah Desa Panciro 190 Ha dengan perbandingan luas pemukiman penduduk 40 persen dan lahan pertanian (sawah) 60 persen. Bahkan, mahasiswa S2 Konsentrasi SDM Universitas Indonesia Timur (UIT) Makassar ini juga sependapat dengan Murdiati kalau lahan sawah potensial di Panciro seluas 120 Ha.

Penulis : Darwis Jamal Takdir

ads
ads
ads

Video

Leave a Reply