Kebodohan Itu Membenarkan Kebiasaan Salah

ads

Tajukutama.com, Makassar – Banyak aktivitas di suatu negeri yang tidak bisa diterima hati nurani. Gaji telah diberi atas pekerjaan yang telah diamanatkan padanya tak lantas menjadi puas.

Jabatan yang dipunya dimanfaatkan untuk mendapatkan jatah dari hasil melayani, yang sejatinya memang sudah pekerjaannya. Setali tiga uang yang dilayanipun sama, demi memuluskan urusan rela memberi lebih bahkan seharusnya gratis atas jasa pejabat tersebut.

Bukannya pejabat memang punya tugas melayani dan karena itulah ia digaji. Begitupun masyarakat yang dilayani punya hak mendapatkan pelayanan, jadi tak perlu memberi sesuatu yang menjadikan ketagihan.

ads
ads

Kebiasaan-kebiasaan salah ini terus diadopsi yang akhirnya menjadi benar dan pembenaran. Inilah kebodohan rakyat membenarkan kebiasaan salah. Padahal berbuat curang seperti korupsi, kolusi dan nepotisme merupakan perbuatan yang hina dan tentunya diharamkan. Sebagaimana diperingatkan Al Qur’an dalam surah Al-Baqarah Ayat 188:

وَلَا تَاۡكُلُوۡٓا اَمۡوَالَـكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ وَتُدۡلُوۡا بِهَآ اِلَى الۡحُـکَّامِ لِتَاۡکُلُوۡا فَرِيۡقًا مِّنۡ اَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡاِثۡمِ وَاَنۡـتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ

Artinya: “Dan janganlah kamu makan harta di antara kamu dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kamu menyuap dengan harta itu kepada para hakim, dengan maksud agar kamu dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kamu mengetahui.”

Larangan ini, harusnya menjadi pertimbangan kuat untuk tidak dilakukan. Sayangnyaya, saat ini perbuatan semacam itu menjamur dan tidak lagi dipandang tabu. Namun, jika sistem Islam diterapkan pada negeri akan menyadarkan umat muslim untuk tidak melakukan, mengingat bahwa Islam memberikan pendidikan untuk menyiapkan manusia yang bermental kokoh dan berkepribadian Islam. Sehingga Islam membentuk kesadaran manusia yang tinggi akan kewajibannya dalam menjalankan amanah. Standar perbuatan seseorang pun adalah Islam, maka, saat melakukan apasaja akan diupayakan bernilai ibadah, jadi semua ini hanya didapat pada pendidikan Islam.

Sistem Islam, yang memberikan kepastian bahwa semua permasalahan umat ada solusinya. Islam juga, memberikan jaminan kesejahteraan rakyat dalam pemenuhan kebutuhan dan pelayan publik tanpa pilih kasih. Kebiasaan-kebiasaan buruk seperti curang tentu tidak mudah dilakukan, karena ketegasan hukum Islam memberi efek jera bagi pelaku akan menjadikan gambaran jelas bagi yang lain untuk tidak melakukan hal serupa.

Berbeda pada sistem saat ini yang hukumnya “tajam ke bawah tumpul ke atas” bukanlah isapan jempol semata, ini nyata adanya. Lihatlah hukum pilih kasih yang dipertontonkan sangat vulgar membunuh hati nurani. Saatnyalah kita berhijrah dari sistem rusak dan merusak saat ini menuju sistem Islam yang rahmatan Lil ‘alamin. Wallahu alam bishawab

Penulis: Nur Rahmawati, S.H. (Penulis dan Pemerhati Generasi)

ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads

Video

Leave a Reply