Global War on Terrorism, Agenda Barat

ads

Tajukutama.com, Makassar – “Para militan meyakini bahwa mengendalikan satu negeri akan mempersatukan umat Islam, memungkinkan mereka menggulingkan semua pemerintahan moderat dan menegakkan imperium radikal Islam dari Spanyol hingga Indonesia.”I Inilahseklumit pidato Presiden Bush kepada rakyatnya 8 Oktober 2005. (al-wa’ie edisi syawal, 1-31 juli 2018).

Jika kita maknai pidato bush tersebut, maka mengarah pada ketakutan yang luar biasa bahwa kebangkitan Islam nyata adanya. Akan lahirnya institusi politik Islam (negara Islam) yang bersifat global. Menjadi keyakinan umat, bahwa aturan Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam negara akan menjadi kekuatan. Inilah program perang sesungguhya yang digaungkan Amerika.

Senada pernyataan di atas, Bush juga telah memprioritaskan agenda melawan terorisme ketika terpilih menjadi presiden AS (Amerika Serikat). Menyusul Serangan 11 September 2001, Bush mengumumkan Perang melawan terorisme secara menyeluruh. (P2kp.stiki.ac.id).

ads
ads

Tak mengherankan, jika ada sekelompok orang yang terbentuk dalam suatu partai politik ataupun organisasi yang giat menyuarakan kembalinya institusi global ini, akan menjadi sasaran empuk global war on terrorism. Barat dalam hal ini AS menuding bahwa partai politik tersebut menjadi bagian atau terlibat aksi terorisme tersebut. Sayangnya, mereka gagal membuktikannya.

Agenda global tersebut, juga menyasar Indonesia yang menggunakan pola yang sama. Setiap ada aksi bom, selalu dikaitkan dengan perjuangan menegakkan negara Islam. Itu dilakukan berulang-ulang oleh para pejabat rezim. Sehingga, menjadi isu nasional, bahwa adanya aksi pengeboman menjadi bagian dari upaya menegakkan negara Islam.

Bukan sesuatu yang baru, bahkan tak menjadi heran jika hal tersebut digadang-gadang oleh rezim. Mengingat adanya ancaman atas kekuasaan yang dirasakan oleh mereka. Inilah demokrasi, sistem yang menghalalkan segala cara guna melanggengkan kekuasaan. Ibu dari demokrasi ini adalah sekularisme yang memisahkan aturan agama dalam kehidupan, akhirnya berpotensi besar bahkan suatu keniscayaan menjual agama demi kepentingan pribadi maupun segolongan orang.

Radikalisme Senjata Baru Menjegal Islam

Setelah gagal mem-framing opini terorisme yang disematkan kepada pejuang Negara Islam di seluruh dunia. Barat menggunakan istilah lainnya sebagai senjata barunya guna menjegal Islam, yakni radikal.

Legitimasi tuduhan, setidaknya dapat dipahami melalui cara pandang mereka. Dikutip Fanani dalam Rizal Sukma (2004), radicalism is only one step short of terrorism, bahwa pada umumnya para terorisme yang melakukan tindakan destruktif dan bom bunuh diri mempunyai pemahaman yang radikal terhadap berbagai hal, khususnya agama. Hal ini tampak tatkala pelaku teroris melegitimasi tindakannya dalam paham keagamaan radikal yang ia anut (Ahmad Fuad Fanani, 2012:5).

Proyek deradikalisasi ini ternyata tak tanggung-tanggung. Adanya dukungan oleh para ulama yang menjual ayat agama untuk menyerang pandangan-pandangan prinsipil, menyerang ajaran Islam dengan menafsirkan ayat Al-Quran dan al-Hadis secara serampangan, mengikuti kehendak mereka. Bagi yang tidak setuju adanya Islam Nusantara (Islam moderat) dianggap radikal, fundamentalis, islamis bahkan teroris. Bahkan, dianggap anti Pancasila.

Proyek dan agenda tersebut memang menyasar Islam. Agar kebangkitannya tertunda. Diketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim terbesar dunia. Sehingga, sangat strategis perannya. Dilihat dari segi sumber daya alam yang melimpah.

Kembali pada Islam

Proyek deradikalisasi memang sebuah upaya mencegah kebangkitan Islam. Maka, perlu kesadaran bahwa umat ini memiliki kekuatan yang luar biasa jika bersatu. Tidak ada lagi penindasan sebagaimana terjadi di belahan dunia yang beragama Islam, seperti Palestina yang hingga kini diserang secara brutal oleh zionis Israel, Uighur di Myanmar, muslim di India dan lainnya. Semua ini karena tidak bersatunya umat Islam dalam naungan satu kepemimpinan yang dinaungi institusi global yang bernama khilafah.

Islam adalah idiologi sempurna dengan segala aturan penjamin kesejahteraan, keadilan, keamanan, perlindungan dan kehormatan seluruh warganya. Bagaimana sejarah kejayaan Islam menguasai 2/3 dunia selama kurang lebih 14 abad lamanya berlindung dengan aman sejahtera di bawah naungan khilafah yang menerapkan sistem Islam secara kafah.

Kembali kepada Islam adalah solusi tuntas atas segala permasalahan yang kini membelenggu muslim seluruh dunia. Agenda barat yang lantang membungkam dan memberangus umat Islam, tak kan mudah dialamatkan. Pembantaian yang terjadi, tuduhan terorisme yang membabi buta tak kan mudah dilayangkan kepada umat Islam, jika Islam dijadikan perisai. Perasaan saling mencintai sesama muslim di manapun berada akan terpatri dalam jiwa. Ibarat satu tubuh, jika ada muslim yang tersakiti, maka secara otomatis muslim lain ikut merasakannya sebagaimana hadis Rasulullah Saw:

“Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim). Wallahu ‘alam bishawab

Penulis: Nur Rahmawati, S.H. (Penulis dan Pemerhati Politik)

ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads
ads

Video

Leave a Reply