V-Day, Kemaksiatan Berbalut Kasih Sayang

ads

Tajukutama.com, Makassar – “Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya, sementara kesengsaraan adalah ketika seseorang dikuasai oleh nafsunya” (Imam Al-Gazali). Nafsu membuat manusia meneropong kemana arah hidupnya kelak. Akankah menjadi budak nafsu dunia atau kah mulia sesuai dengan predikat yang dititahkan Sang Pencipta.

Februari adalah bulan yang dinanti-nanti para bucin (budak cinta). Sejak awal bulan, ramai di pusat-pusat perbelanjaan, terpajang gambar hati warna merah dan atau warna merah muda. Tak lupa sebatang coklat dan bunga mawar menghiasinya. Pemandangan seperti ini sudah jamak kita temui di momen perayaan Valentine’s day di seluruh dunia, tak terkecuali di negeri ini, negeri dengan mayoritas Muslim terbesar di dunia. Sungguh miris.

Ya, Valentine’s day (V-day) atau hari kasih sayang. Sepintas, terlihat tidak ada yang keliru. Namun, beginilah busuknya para pengemban ideologi kapitalisme. Membuat jargon-jargon dengan diksi yang terkesan manis dan baik, namun sejatinya mereka menawarkan racun yang pahit dan menyengsarakan. Anehnya, para generasi Muslim pun ikut terseret begitu jauh dalam kubangan kemaksiatan ini.

ads

Dosen Sosiologi Universitas Hasanuddin, Nuvida RAF mengatakan bahwa jika dicermati, model perayaan V-day tersebut sangat mirip di negeri asalnya. Kasih sayang dimaknai seolah menjadi sempit dalam arti hubungan seksual semata. Lebih lanjut, Nuvida berkomentar bahwa alat kontrasepsi menjadi sangat laris menjelang valentine (makassar.terkini.id, 14/2/2020).

Selanjutnya, fakta lain yang tidak bisa kita pungkiri adalah maraknya pesanan hotel atau penginapan untuk menginap sepasang kekasih, penjualan kondom bak permen, serta aksesoris seputar coklat dan mawar yang dibingkai dengan gambar hati. Tentu hal ini menjadi kebiasaan yang menimbulkan pengaruh sangat buruk, terutama bagi generasi Muslim. Diperparah dengan masyarakat yang berpikir jumud, tak perduli dengan kondisi generasi yang sudah sedemikian rusak.

Kebebasan Kebablasan

Atas nama kebebasan, hampir semua jenis kemaksiatan dengan mudah kita temui. Perkembangan zaman yang begitu pesat, membuat informasi  dengan mudah menembus ruang dan waktu, bahkan tak mengenal usia. Tak pelak lagi, kondisi keluarga dan generasi saat ini, mundur jauh ke belakang. Kalau tidak ingin dikatakan jahiliah modern.

Sekularisme sebagai asas dari sistem yang diadopsi di negeri ini, berhasil memporak-porandakan generasi dari semua lini kehidupan. Salah satu kebebasan yang dilindungi adalah kebebasan berekspresi/berperilaku; selain kebebasan berkeyakinan, kebebasan berpendapat, dan kebebasan kepemilikan. Inilah pintu masuk yang membuka keran kemaksiatan begitu terbuka lebar.

Lihatlah, begitu banyak fakta terpampang di depan mata. Ragamnya pun tak bisa lagi di nalar akal sehat manusia. V-day yang jelas-jelas merupakan ajang berbuat amoral bagi muda-mudi atau sepasang kekasih, seolah menjadi hal yang lumrah. Pun sebagian orangtua secara sadar, ikut terkecoh dengan jargon kasih sayang ini. Parahnya lagi, ritual tahunan ini tetap saja berlangsung di tengah makin hancurnya generasi. Inilah buah kebebasan ala kapitalisme. Kebebasan tanpa batas, yang sangat berbeda secara diametral dengan sistem Islam.

Kasih Sayang dalam Islam

Islam adalah agama paripurna yang mengatur semua hal secara detil, bahkan urusan yang paling sensitif sekalipun. Pengaturan Islam dalam seluruh aspek kehidupan, menunjukkan kemuliaan Dien ini. Diatur dengan syariat yang berasal dari Sang Pencipta manusia dan seluruh isi semesta, meniscayakan terciptanya kesejahteraan dan ketenteraman hidup untuk semua.

Manusia diciptakan oleh Allah Swt. dibekali dengan kebutuhan dan naluri (gharizah). Salah satunya adalah gharizah nau’, yakni naluri mempertahankan keturunan. Naluri ini ada pada setiap manusia; terimplementasi dalam sifat keibuan, kebapakan, dan keanakan. Rasa sayang dan cinta orangtua kepada anaknya, begitupun sebaliknya. Selanjutnya rasa sayang dan cinta kepada lawan jenis, diatur melalui mekanisme pernikahan yang sudah ditetapkan syariah.

Gerbang pernikahan membuat hubungan antar lawan jenis menjadi halal. Ikatan yang menjadikan separuh agama sempurna, membuat pasangan menjadi mulia di mata Allah. Bahkan dalam Al-Qur’an, disebut sebagai mitsaqan qhalidza (perjanjian kuat/agung). Sungguh, kesempurnaan Islam tercermin dalam semua aspek kehidupan, tak terkecuali terkait rasa kasih sayang ini.

Seyogianya jika manusia ingin hidup dalam keberkahan dan terhindar dari kemaksiatan, kembalilah pada aturan Ilahi Rabbi. Aturan yang paling sempurna untuk seluruh alam, dengannya akan tercipta kehidupan harmonis. Kehidupan yang diliputi rasa kasih sayang karena-Nya. Jauh dari aktivitas mengumbar nafsu yang akan menghinakan pelakunya di dunia, terlebih di akhirat kelak.

Sebagaimana dalam QS. Ar- Ruum: 21, yang artinya: “Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir.”

Wallahua’lam bis Showab.

Penulis: Suryani Izzabitah: (Dosen dan Pemerhati Generasi)

ads

Video

Comment