Narkoba Kian Membanjiri Negeri, Harus Cari Solusi Mengatasi

ads

Tajukutama.com, Makassar – Kejahatan narkotika merupakan kejahatan extraordinary yang menjadi concern seluruh negara di dunia, karena narkotika dapat merusak satu generasi bangsa dari suatu negara. Saat ini, dunia sedang dilanda pandemi covid-19 yang banyak berpengaruh terhadap semua sistem dan sendi kehidupan manusia, bahkan mengakibatkan jutaan manusia meninggal dunia. Pandemi covid-19 juga memberikan dampak besar pada munculnya modus baru dari peredaran gelap narkotika di dunia.

Mirisnya selama pandemi kasus peredaran narkoba kian marak terjadi, seperti dilansir dari laman berita CNN Indonesia, Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri menyatakan terdapat peningkatan kasus penyalahgunaan narkotika selama masa pandemi virus corona (Covid-19) yang merebak di Indonesia pada 2020 ini. Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Brigjen Pol Krisno Siregar menjelaskan bahwa peningkatan itu terlihat dari jumlah barang bukti yang diamankan polisi selama bertindak.

Pada tahun 2019 polri mengungkap 2,7 ton barang bukti sabu, sedangkan pada tahun 2020 Sampai akhir 2020 data menunjukkan 4,57 ton. Jadi ada peningkatan dari 2,7 (ton) ke 4,57 (ton) berarti (meningkat) 2 ton,” kata Krisno kepada wartawan di Mabes Polri, Jakarta, Rabu (18/11). Catatan kelam kasus narkoba pun di awal tahun 2021 tak kalah sadisnya membanjiri negeri ini, tak tanggung-tanggung, pemakainya adalah pihak yang selama ini dipercaya dalam pemberantasan narkoba. Seperti viral diberitakan kasus Kapolsek Astana Anyar, Kompol Yuni Purwanti yang ditangkap Propam karena menggunakan narkoba.

ads

Kompol Yuni Purwanti seperti diketahui adalah sosok berprestasi dalam bidang pemberantasan narkoba, dulu dia adalah orang yang ditakuti namun kini malah diamankan saat sedang mengonsumsi narkoba bersama 11 anggota lainnya, dari tes urine Kompol Yuni Purwani bersama 11 anggotanya dinyatakan positif menggunakan narkoba, (tribunenews, 17/2/2021).

Selang sehari penangkapan kasus narkoba yang pemakainya dilakukan sendiri pihak kepolisian, dilansir dari laman berita Merdeka.com, satu keluarga terdiri dari ayah, ibu, anak dan menantu ditangkap polisi. Mereka, diketahui memiliki narkoba jenis sabu dan pil koplo. Satuan reserse narkoba Polres Jombang menggagalkan peredaran narkotika dan obat-obatan terlarang jaringan lapas Porong, Kabupaten Sidoarjo, (20/2/2021).

Ya, demikianlah kasus narkoba seakan tak berhenti membanjiri negeri, kasus-kasus di atas hanyalah satu dan dua dari banyaknya kasus yang belum terungkap. Tentu saja kondisi peredaran narkoba sangat mengkhawatirkan, sebab kasusnya hampir merata merasuki semua lini hingga masuk ke pelajar dan perguruan tinggi. Bahkan menurut pernyataan Kepala BNN, narkoba sudah masuk ke pondok pesantren. Sungguh ironi, sebab Indonesia sebagai negara berpenduduk mayoritas muslim ini ibarat surga bagi narkoba.

Akar Masalah Kian Meningkatnya Kasus Narkoba

Menurut penjelasan pangamat hukum Asep Iwan Iriawan, salah satu faktor penyebab maraknya mafia dan pengedar narkoba adalah rendahnya hukuman bagi pelaku. Vonis hukuman di Indonesia adalah hukuman yang ringan dan seumur hidup, hukuman mati di Indonesia hanya di atas kertas. Hukuman mati hanya berlaku untuk kejahatan teroris dan pembunuhan berencana. Bahkan di dalam penjara pun para mafia yang tertangkap dan diputus hukuman mati pun masih bisa mengendalikan dan menjalankan bisnis narkoba. Sehingga lemahnya hukuman terhadap pengguna dan pengedar narkoba ini membuat pengedar narkoba tidak jera dan tetap melakukan aksinya.

Aspek lain fenomena meningkatnya kasus narkoba tersebut merupakan hal yang biasa terjadi, sebab tak dimungkiri saat ini di negeri ini kehidupan yang serba liberal yang yang dijunjung tinggi dan menggaungkan ide kebebasan atas nama HAM. Saat ini, demokrasi yang diadopsi oleh Indonesia meniscayakan pandangan individualistik dan kebebasan sebagai pilar penegakknya, akibatnya muncul perilaku-perilaku menyimpang atas nama HAM, salah satunya penyalahgunaan narkoba.

Kehidupan sekuler jauh dari agama, ditambah lagi gaya hidup hedonis pun menempatkan narkoba itu barang yang keren dan wajib dicoba bagi kalangan yang disebut milenial hingga orang tua, karena zat terlarang jenis tertentu dapat membuat pemakainya lebih berani, keren, percaya diri, kreatif, santai dan bahkan dikatakan bisa menjadi penguat stamina tubuh.

Apalagi saat ini banyak anak yang tidak mendapatkan perhatian, dan kasih sayang dari orang tuanya, banyak keluarga tidak harmonis, bercerai, hingga pengawasan orang tua lemah, dan banyak orang tua khususnya sang ibu telah sibuk mencari uang mengejar karir sehingga perhatian kepada anaknya menjadi terabaikan. Kondisi ini memicu para generasi muda tergiur untuk coba-coba dan ikut-ikutan menggunakan narkoba.

Peliknya kondisi kehidupan, ditambah persoalan yang membelit jutaan keluarga, mulai dari mahalnya biaya hidup, sulitnya lapangan pekerjaan, persaingan di lingkungan kerja yang ketat, perselingkuhan, dan berbagai problem lainnya menyebabkan banyak orang stress hingga depresi. Orang yang dirundung banyak masalah dan ingin lari dari masalah sangat rentan untuk terjerumus dalam kubangan narkoba.

Narkoba dipandang dapat membantu seseorang untuk melupakan masalah dan mengejar kenikmatan. Apalagi, saat ini masyarakat cenderung tidak acuh dan tidak peduli, pengawasan sosial masyarakat kian longgar, dan menurunnya moralitas masyarakat makin menambah keinginan untuk menggunakan narkoba. Walhasil, penyebab tingginya penyalahgunaan narkoba hingga level darurat ini bukan hanya karena faktor individu semata.

Namun jika ditelisik kasus narkoba ini sebenarnya mencakup berbagai aspek yang berskala sistemik. Bahkan, faktor lingkungan masyarakat dan penerapan aturan dari negaralah yang menjadi faktor terbesar yang memperparah kasus ini. Semua itu tak lepas dari sistem liberal kapitalis yang diadopsi negeri ini. Sistem yang lahir dari sekularisme menjadikan manusia sebagai pembuat hukum ini telah membuat banyak orang jauh dari agama dan melanggar berbagai aturan, termasuk aturan agama.

Maka ketika negara ingin memberantas hingga tuntas kasus narkoba harus ada solusi yang komprehensif dan harus menyentuh akar permasalahannya, tak cukup hanya dengan operasi dan razia semata.

Solusi Tuntas Pemberantasan Narkoba

Mengutip pernyataan KH. Shiddiq Al Jawi dalam tulisannya yang berjudul “Hukum Seputar narkoba dalam Fiqh Islam”, dalam khazanah fiqh kontemporer, narkoba disebut sebagai “al mukhaddirat”. Dikategorikan dalam fiqh kontemporer karena Narkoba adalah masalah baru, yang belum ada masa imam-imam mazhab yang empat. Meskipun perkara baru, tidak ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang keharamannya. Menurut beliau, narkoba diharamkan karena dua faktor:

Pertama, ada nash yang mengharamkan narkoba, yakni hadits dari Ummu salamah RA bahwa Rasulullah SAW telah melarang dari segala sesuatu yang memabukkan (muskir) dan melemahkan (mufattir). (HR Ahmad, Abu Dawud no 3686). Yang dimaksud mufattir (tranquilizer), adalah zat yang menimbulkan rasa tenang/rileks (istirkha`) dan malas (tatsaqul) pada tubuh manusia. (Rawwas Qal’ahjie, Mu’jam Lughah Al Fuqoha`, hlm. 342). Kedua, karena menimbulkan bahaya (dharar) bagi manusia. Dalam fiqh, dikenal kaidah “Al ashlu fi al madhaar at tahrim” (hukum asal benda yang berbahaya [mudharat] adalah haram).

Berdasarkan keharaman ini, maka Islam akan mencegah dan memberantas narkoba, yakni dengan cara, Pertama, meningkatkan ketakwaan setiap individu masyarakat kepada Allah. Ketakwaan setiap individu masyarakat akan menjadi kontrol bagi masing-masing sehingga mereka akan tercegah untuk mengkonsumsi, mengedarkan apalagi membuat narkoba.

Kedua, menegakkan sistem hukum pidana Islam dan konsisten menerapkannya. Sistem pidana Islam, selain bernuansa ruhiah karena bersumber dari Allah SWT, juga mengandung hukuman yang berat. Pengguna narkoba dapat dipenjara sampai 15 tahun atau dikenakan denda yang besarnya diserahkan kepada qadhi (hakim) (al-Maliki, Nizham al-‘Uqubat, hlm. 189). Jika pengguna saja dihukum berat, apalagi yang mengedarkan atau bahkan memproduksinya, mereka bisa dijatuhi hukuman mati sesuai dengan keputusan qadhi (hakim) karena termasuk dalam bab ta’zir.

Ketiga, merekrut aparat penegak hukum yang bertakwa. Dengan sistem hukum pidana Islam yang tegas, yang notabene bersumber dari Allah SWT, serta aparat penegak hukum yang bertakwa, hukum tidak akan dijualbelikan. Mafia peradilan sebagaimana marak terjadi dalam peradilan sekuler saat ini kemungkinan kecil terjadi dalam sistem pidana Islam. Ini karena tatkala menjalankan sistem pidana Islam, aparat penegak hukum yang bertakwa sadar betul, bahwa mereka sedang menegakkan hukum Allah, yang akan mendatangkan pahala jika mereka amanah dan akan mendatangkan dosa jika mereka menyimpang atau berkhianat.

Islam merupakan agama pembawa rahmat yang mampu memberi solusi atas berbagai problematika kehidupan manusia. Solusi paripurna yang dimiliki Islam akan bisa terwujud jika negara ini mau mengambil dan mengadopsi sistem pemerintahan Islam. Tentu saja sistem yang berasal dari Allah SWT adalah yang terbaik dan sudah terbukti dan teruji mampu menyelesaikan setiap problem kehidupan. Sistem Islam selama sejarah peradaban pernah memimpin dunia hingga belasan abad lamanya.

Sosok Rasulullah Muhammad, para Khufaur Rhasiddin, dan pemimpin setelahnya adalah contoh tauladan memimpin umat dengan Islam. Kehidupan sejahtera, adil dan makmur dirasakan tidak hanya bagi Muslim, namun juga Nonmuslim. Tidakkah negeri ini menginginkannya kembali? Wallahu ‘alam bis showab

Penulis: Nelly, M.Pd. (Akademisi dan Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)

ads

Video

Comment