Hentikan Ketergantungan Impor dengan Mewujudkan Kemandirian Pangan

ads

Tajukutama.com, Makassar – Awal tahun seharusnya disambut dengan penuh kebahagiaan dengan harapan yang baru oleh rakyat. Namun, rupanya rakyat harus menghadapi kenyataan pahit lagi dengan naiknya harga bahan baku kedelai impor yang berdampak pada hilangnya tempe dan tahu dari pasar-pasar tradisional. Tentu saja ini menjadi persoalan besar bagi para penikmat berbagai olahan tempe dan tahu. Terutama masyarakat menengah ke bawah.

Kenaikan harga ini membuat para pengrajin tahu di Bogor hingga se-Jabodetabek melakukan mogok massal mulai 31 Desember 2020 hingga 2 Januari 2021. Hal ini dilakukan sebagai bentuk protes kepada pemerintah atas Ketidakperhatian mereka pada pengrajin tempe dan tahu pada kenaikan harga kedelai ini.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor kedelai Indonesia sepanjang semester I tahun 2020 mencapai 1,27 juta ton atau sekitar Rp 7,52 triliun (kurs Rp 14.700). Data Gabungan Asosiasi Koperasi Tahu- Tempe Indonesia (Gakoptindo), selain dari Amerika Serikat, pasokan kedelai juga didatangkan dari Kanada, Brasil, dan Uruguai (Kompas.com, 23/08/2020).

ads

Ini menunjukkan betapa negeri ini ketergantungan impor. Padahal, sudah umum diketahui bersama bahwa negeri ini kaya akan sumber daya alamnya. Sebagai negara dengan iklim tropis membuat apapun mudah tumbuh. Gemah Ripah Loh Jinawi, itulah slogan yang disematkan untuk negeri yang kaya raya ini. Idealnya negara dengan kondisi semacam ini memiliki keunggulan dalam sektor pertanian. Maka dari itu, tak dibutuhkan impor pangan.

Pada tahun 1992 Indonesia pernah swasembada kedelai. Dengan produksi mencapai 1,8 juta ton. Sungguh jumlah yang sangat besar. Tentu saja hal ini bukanlah tidak mungkin, sebab Indonesia dengan hamparan sawah dan lahan pertanian yang luas dengan kesuburannya mampu memproduksi kedelai.

Dengan demikian, sebenarnya Indonesia mampu memproduksi kedelai sendiri tanpa harus bergantung pada impor. Tapi, rupanya negeri ini lebih memilih untuk impor pangan. Ketergantungan ini membuat negeri ini tak memiliki kemandirian pangan.

Potensi yang Tak Dioptimalkan

Pangan adalah persoalan yang sangat penting. Karenanya, tidaklah sebuah negara bergantung pada negara lain dalam soal pangan. Sebab, hal ini menyangkut hidup rakyat banyak. Negara seharusnya memberikan bantuan kepada para petani agar mereka dapat memproduksi pangan dengan biaya produksi yang ringan dan bisa mendapatkan keuntungan besar. Tak hanya itu, ketersediaan lahan pun sangat penting.

Indonesia memiliki lahan pertanian yang sangat luas. Namun, potensi ini belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak yang memiliki lahan sangat luas, tapi tidak dikelola dengan benar. Sementara bila ada orang yang mengolah lahan pertanian, ia hanya sebagai buruh tani bukan pemilik lahan.

Pun, sistem ekonomi kapitalis memandang masalah perekonomian terletak pada kelangkaan, sehingga solusi yang diberikan adalah meningkatkan produksi barang atau jasa. Untuk pemenuhan produksi barang atau jasa ini, termasuk pangan, impor menjadi pilihan utama ketimbang mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Padahal, dengan mengoptimalkan kekayaan lahan pertanian yang dimiliki bisa membuat negeri ini memenuhi kebutuhan pangannya.

Selain itu, kebijakan ekonomi dalam sistem ini yang tidak pernah berpihak kepada rakyat. Dalam sistem kapitalis yang menjadi penguasa sebenarnya adalah para kapitalis (pemilik modal/konglomerat). Wajar jika kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah selalu berpihak kepada para pemilik modal dan selalu mengorbankan kepentingan rakyat.

Kemandirian Pangan

Negara yang tak memiliki kemandirian pangan akan dengan mudahnya terjajah. Meski bukan penjajahan secara militer, namun penjajahan dari segala aspek terutama perekonomian yang menindas negara tersebut. Dari segi kedaulatan, negara tersebut tak memiliki kekuasaan penuh, sebab mereka tunduk pada kebijakan-kebijakan negara penjajahnya, terutama pada kebijakan luar negeri yang akan mempengaruhi pula kebijakan dalam negerinya.

Kemandirian pangan artinya bahwa negara mampu memproduksi pangan untuk memenuhi segala kebutuhan pokok rakyatnya. Tanpa bergantung pada negara lain. Dalam hal ini, terlaksananya swasembada pangan. Dengan kemandirian pangan ini, negara akan mampu menjaga ketahanan negaranya. Sehingga tak akan mudah untuk dijajah. Untuk itu produktivitas pertanian harus pendapat perhatian serius sebagai upaya ketahanan negara.

Dalam hal ini, pemimpin atau penguasa memiliki peran yang sangat penting dalam mewujudkan kemandirian pangan ini. Sebab, seorang pemimpin tak lain adalah pelayan bagi rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw.:

“Setiap kalian adalah pemimpin, yang bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya. Seorang penguasa yang memimpin manusia (rakyat) adalah pemimpin, dan dia bertanggung jawab terhadap mereka.” (HR al-Bukhari)

Oleh karena itu, sudah menjadi kewajiban seorang pemimpin untuk memberikan kemudahan bagi rakyatnya dalam pengolahan lahan pertanian. Seperti pemberian bibit, pupuk dan obat-obatan akan disupport penuh dengan subsidi yang besar dari negara.

Dalam hal ini, Islam memandang bahwa persoalan pertanian pada hakikatnya berhubungan dengan pemanfaatan lahan pertanian. Islam menyelesaikan persoalan lahan pertanian dengan menetapkan larangan pemisahan antara pemilik dan pengelola lahan pertanian.

Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa memakmurkan (mengelola) tanah yang tidak menjadi milik siapapun, maka ia berhak atas tanah tersebut”. (HR Bukhari).

Dan negara berhak menyita lahan pertanian dari pemiliknya jika lahan itu tidak dikelola selama tiga tahun berturut-turut. Ketentuan ini mendorong pemanfaatan lahan pertanian secara optimal oleh pemilik lahan, yang pada gilirannya akan meningkatkan produksi.

Dengan demikian tak akan ada tanah yang tidak produktif. Sehingga, dengan pemanfaatan lahan pertanian yang maksimal akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat. Dengannya kemandirian pangan akan terwujud, sehingga negara tak perlu lagi ketergantungan impor. Namun, semua ini hanya akan terwujud manakala menjadikan Islam sebagai landasan kehidupan.

Wallahu a’lam[]

Penulis: Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter)

ads

Video

Comment