Kebiri Predator Seks & Islam Sebagai Solusi

ads

Tajukutama.com, Makassar – Daratan nan luas dengan segala keindahannya, menjadi ladang bagi anak-anak menciptakan kebahagiaan, ironisnya menjadi sarang kriminalitas oleh predator anak yang buas di luar sana. Kian hari predator anak semakin membiak, menghantui negeri seakan tidak memberikan kesempatan bagi perempuan dan ibu untuk bernapas lega terhadap sang predator yang semakin beringas.

Dalam rangka mengatasi perbuatan keji tersebut, pelaku kekerasan seksual pada anak atau predator seksual anak kini akan menghadapi ancaman hukuman yang lebih di Indonesia. Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menekan Peraturan Pemerintah (PP) yang memungkinkan penerapan hukuman tambahan selain pidana penjara seperti pelaksanaan tindakan kebiri kimia, pemasangan alat pendeteksi elektronik, rehabilitasi dan pengumuman identitas pelaku kekerasan seksual terhadap anak (viva.co.id, 3/1/2020).

Kebiri kimia yang merupakan prosedur medis dengan memasukkan zat kimia ke dalam tubuh, dianggap sanksi tertinggi dan pemberatan sanksinya dianggap efektif untuk menghentikan dan menekan kekerasan seksual terhadap anak, juga memberikan efek jera bagi predator anak.

ads

Peraturan yang ditekan pemerintah, kebiri kimia kepada predator, meskipun tujuannya baik nyatanya tidaklah efektif. Pada tahun 2016 hukuman ini sudah ditambahkan dalam Perppu Perlindungan Anak, meskipun menuai kontroversi lantaran efek dari kebiri ini menurunkan hasrat seksual seorang laki-laki akibat disuntikkan hormon kewanitaan, sehingga memberi kemungkinan pelaku menjadi kewanita-wanitaan dan memunculkan masalah baru.

Peraturan tersebut tidaklah memberantas pelaku sekaligus perilakunya. Bahkan, setiap tahun angka kekerasan seksual anak semakin meningkat, menunjukkan bahwa hukuman tersebut bukanlah hukuman yang tepat sasaran. Kebiri tidaklah mengakhiri.

Perlakuan tersebut lebih memfokuskan kepada hukuman bagi pelaku, namun untuk tindakan pencegahannya bisa kita kalikan nol atau tidak ada. Padahal aksi predator seksual dipicu oleh banyak faktor, sehingga jalan untuk memberantas hal tersebut tidak cukup dengan melihat kejahatannya itu sendiri, tetapi harus dilihat secara komperhensif dan utuh.

Aqidah menjadi pondasi kehidupan, baik bagi individu, masyarakat maupun negara. Maka, individu, masyarakat sampai tataran negara yang menjadikan aqidah Islam sebagai pondasi kehidupannya akan berjalan dalam kebenaran lantaran standar hidupnya menjadikan perbuatan dan perilakunya terikat dengan Islam.
Sehingga, faktor utama yang menjadi akar atas aksi predator anak adalah terkait aqidahnya, minimnya keimanan pada pribadinya. Sehingga, melancarkan aksi tersebut yang pada hakikatnya bertentangan dengan syari’at Islam.

Demikian juga hasrat untuk melakukan aktivitas seksual akan muncul bila terdapat rangsangan-rangsangan yang mendorong untuk mencoba atau melakukannya. Media yang leluasa menyajikan tayangan-tayangan pornografi dan pornoaksi seakan menjadi konsumsi publik tanpa dikontrol negara. Padahal hasrat seksual salah satunya muncul akibat tayangan-tayangan tidak senonoh itu. Minuman keras yang mudah didapatkan, bahkan narkoba yang beredar di setiap pelosok.

Adopsi lifestyle sekuler, lalu pemikiran liberal yang berdasar pada dalih kebebasan di atas segalanya, sehingga aturan pencipta harus dipisah dari kehidupan-lah yang nyatanya juga menghalalkan aksi predator tersebut. Hal ini disebabkan karena momok pelecehan dan eksploitasi seksual, adalah konsekuensi alami dari pemenuhanan kebebasan, terutama kebebasan seksual, dan penyimpangan dari naluri manusia, serta menghubungkan kebahagiaan dengan tercapainya kesenangan fisik.

Inilah kecacatan dari sistem kapitalisme-sekularisme, meninggalkan bukti nyata ketidakmampuannya dalam mengatasi berbagai problematika yang ada, termasuk permasalahan kekerasan seksual anak. Bagaimana tidak, sistem kebebasan yang dianut oleh negeri ini tak mencegah sumber-sumber kemaksiatan.
Aturan yang lahir dari sistem ini, berasal dari manusia dengan segala keterbatasannya yang tak berdaya, membutuhkan lainnya, maka ia pasti sistem yang bertentangan dengan fitrah manusia, dan pasti gagal dalam membuat sistem yang baik untuk mengatur urusan kehidupan.

Islam adalah agama yang sempurna sekaligus sebagai sebuah ideologi, melahirkan aturan kehidupan yang berasal dari Allah SWT. sebagai al-khaliq dan al-mudabbir. Islam memerintahkan negara menghilangkan segala hal yang memicu hasrat seksual yang datang dari publik termasuk pornografi dan pornoaksi. Tayangan-tayangan dan sejenisnya yang mendekati ke arah itu juga akan diberantas.

Islam juga mewajibkan agar negara berkontribusi besar dalam menumbuhkan ketakwaan pada pribadi masyarakat agar memiliki perisai dari berbagai bentuk penyimpangan perilaku. Maka dari itu, siapa saja yang mengharapkan masyarakat yang berakhlak, beradab, jauh dari penyimpangan perilaku, pasti menginginkan penerapan syari’at Islam yang akan mewujudkan kehidupan manusia dalam peradaban yang mulia, kemudian meninggalkan sistem rusak yang diikuti rusaknya kehidupan manusia. Wallahu a’lam.

Penulis: Farah Adibah, (Mahasiswi UIN Alauddin Makassar)

ads

Video

Comment