Sebab Menjadi Kaya Adalah Pilihan

ads

Tajukutama.com, Makassar – Dalam keadaan setengah berbaring, saya ditemani sesosok manusia lugu, lucu dan imut bagai gulali yang tengah sibuk menunggu tiap lembaran kertas yang sedang di print. Suara bising printer itu membuatku tak sadar kudapati kopiku yang tak lagi hangat.

Di lain sisi, saya sedang asyik sendiri setelah mendapati postingan salah satu akun instagram yang memposting sebuah meme. Meme itu berisi tentang Indonesia sebagai negara miskin ditandai dengan motor yang dikendarai dan handpone yang digunakan. Menurut meme tersebut, starter pack orang “misquen” dan kekinian adalah mengendarai motor Honda Beat, provider kartu 3 dan menggunakan ponsel merk Xiaomi.

Meme itu sontak membuatku setengah sedih dan setengah tertawa. Meme itu kontroversial tapi lucu. Ya begitulah netizen Indoensia. Urusan bikin meme udah pasti juara! Akan tetapi, masa iya standarisasi kaum miskin dan kaum kaya dilihat hanya sebatas itu. Yang bikin saya tertawa, manusia lugu yang kutemani sedari tadi ternyata menggunakan semua barang-barang yang disebutkan dalam meme. wkwkwk. Sebenarnya saya hanya menganggap meme ini sebagai candaan atau jokes belaka. Saya sama sekali gak baper, hanya saja cukup menarik untuk kita analisis.

ads

HP Xiaomi

Xiaomi mempunyai banyak penggemar di kalangan pengguna ponsel di Indonesia. Ponsel ini memiliki berbagai spesifikasi yang menarik. Terlebih harga yang terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah membuat jenis ponsel xiaomi memiliki banyak penggemar. Kita bisa mempunyai ponsel ini dengan harga kisaran Rp. 1.500.000. Harga itu sudah memiliki spesifikasi teknologi yang tidak kalah dengan ponsel jenis android lainnya. Saat itu, manusia lugu di sampingku menggunakan HP Xiaomi Redmi Note 5A.

Dibandingkan dengan HP Samsung J7 Prime yang saat ini kugunakan, RAM ponselku lebih kecil dibandingkan dengan ponselnya. Aplikasi yang ia gunakan mulai dari kebutuhan untuk kuliah hingga hiburan seperti game online lancar jaya ia gunakan cuy, lancarrr.

Kedua, soal ketahanan, juga tidak bisa dianggap remeh. Ponselnya telah jatuh berkali-kali. Bekas lecet iya, tetapi sampai saat ini, ia masih menggunakan ponsel itu. Hal ini tentu saja menampik anggapan klasifikasi “misquen” bagi pengguna Xiaomi tidak sepenuhnya benar. Jika spesifikasi yang tak kalah dengan android lain dengan harga yang terjangkau, kenapa tidak kita memilih HP Xiaomi saja untuk digunakan?

Kartu 3

Bisa jadi salah satu penyebab inkonsistensi permainan tim asuhan Frank Lampard di premier league dikarenakan jersey musim ini menggunakan sponsor kartu 3. Sponsor kartu 3 dimaknai dengan minimal kebobolan 3 gol, gabisa naik ke peringkat 3 dan kehilangan 3 point. Ckck, konspirasi.

Kembali ke topik pembahasan, kerja sama kartu 3 dengan salah satu tim sepak bola ternama di Liga Inggris menunjukkan betapa besarnya perusahaan tersebut. Belum lagi, kartu 3 menjadi salah satu sponsor utama yang menjadikan logo kartu 3 terpasang di bagian depan jersey pemain Chelsea.

Kartu ini menjadi provider utama seseorang yang bisa dinyatakan misquen. Saya pernah mendapat candaan salah satu teman yang menanyakan kartu apa sedang saya gunakan dan menjawab kartu 3. Ia pun reflek menyebutkan “kartu miskin idola mahasiswa”. Jaringan super lelet dah kayak siput. Kuota malam menumpuk cuma jadi pemanis iklan kartu. Padahal, bagi saya pribadi, sebagai mantan pengguna kartu 3, banyak manfaat yang saya dapatkan. Dengan mengakumulasi penggunaan kuota per bulan, saya bisa tenang tanpa mengganggu finansial dompet kurus yang suka survive di mode dana darurat. Saya juga bisa memanajemen keuangan dengan matang.

Selanjutnya, jika dibandingkan dengan provider kartu Telkomsel, harga kartu 3 jauh lebih terjangkau. Bayangkan saja, kisaran harga paling murah paket internet Telkomsel kurang lebih Rp. 60.000 an. Nasib baik jika di pertengahan bulan kuota internetnya tidak habis, bisa pusing cari dana tambahan. Belum lagi kartu ini juga menawarkan kuota internet dengan masa aktif seumur hidup, hal ini bisa menjadi opsi sebagai salah satu warisan untuk 7 turunan disaat ajal menjemput, hehe. 

Bagi kalangan mahasiswa, sebisa mungkin untuk menghemat pengeluaran. Belum lagi, koneksi internetnya cukup bagus dipakai di perkotaan. Hanya saja, jika sudah masuk di pedesaan agak kurang lancar. Satu sisi positif yang bisa kita ambil ialah niat provider 3 yang membuat koneksi internetnya kurang lancar semata untuk mendukung niat menabung kita agar tetap bisa berhemat. Jadi, jika ada yang murah tapi berkualitas, kenapa harus memilih yang mahal?

Motor Honda Beat

Apa sih salahnya si motor yang super rider friendy ini? Saya yakin semua orang pernah merasakan bagaimana sensasi mengendarai motor Honda Beat atau minimal punya saudara atau teman yang jadi pemilik si motor-unyu-ini. Salah satu orang yang hampir setiap perjalanan merasakan sensasi mengendarai Honda Beat adalah teman saya si manusia lugu tadi. Ia memanggilnya dengan sebutan si jago merah. Sebagai pemilik si jago merah, ia tidak pernah merasa terhina jika menggunakannya untuk bepergian ke suatu tempat. Terlebih ia hanya perlu menghabiskan uang Rp.20.000 agar tangki bensin jadi penuh dengan premium atau pertalite.

Jadi, jika berdasarkan pengalaman si jago merah, ia mengakumulasikan biaya untuk seminggu, estimasi biaya yang diperlukan hanya 2 kali full tangki atau sebesar Rp. 40.000. Di tengah harga BBM yang makin melonjak, Motor Honda Beat sangat recommended lah. Hal ini lebih irit jika dibandingkan dengan motor Yamaha Fino yang saya gunakan. Kemudian, kapasitas bagasi motor yang besar juga menjadi alasan si manusia lugu itu menggunakan Motor Honda Beat. Ia bisa menyimpan barang sebesar aquarium ikan cupang dalam bagasi tersebut.

Selanjutnya, kemampuan si jago merah dalam menyalip sana sini di tengah padatnya kendaraan di perkotaan yang sudah tidak diragukan. Dengan body motor yang ramping, si jago merah bisa menjadi solusi handal dalam memecah kebuntuan di tengah kemacetan. Wkwkwk.

Saat ini, memakai motor merupakan salah satu simbol transportasi yang mudah dan simpel. Dari analisis di atas, kita bisa menarik sebuah kesimpulan bahwa menggunakan suatu barang tidak harus selalu mahal, tetapi lebih kepada nilai dan fungsinya. Menjadi kaya adalah pilihan, namun berpenampilan sederhana itu lebih baik.

Penulis: Rully Alfandi (Akuntansi UINAM)

ads

Video

Comment