Ibu Tidak Hanya Sekedar Induk

ads

Tajukutama.com, Makassar – Bagai anak ayam kehilangan induknya, merupakan sebuah istilah yang tidak asing lagi di telinga kita. Istilah ini digunakan ketika ada sebuah keadaan yang menuntut adanya seseorang atau sesuatu. Jika tidak ada hal itu yang terjadi akan kacau bahkan tidk bisa berbuat apa-apa.

Berbeda dengan istilah ini jika dibalik “Bagai induk kehilangan anaknya” jika istilah yang satu ini berkesan durhaka ya… Tapi jika mengambil sudut pandang sang ibu yang sholehah namun mendapatkan anak yang kurang baik, akhirnya menghianati ibunya dengan tidak patuh syariat. Namun jika istilah ini diambil dari sudut pandang si anak yang benar dan solih maka bermakna bahwa kesempatan untuk mendapatkan kebaikan dari sang anak akan hilang.

Mengambil dua istilah di atas jika kita kaitkan dengan kedaan negeri kita saat ini, maka istilah yang tepat adalah ‘Bagai induk kehilangan anaknya’. Mengapa hal ini bisa terjadi? Coba bersama kita amati bahwa induk dalam hal ini pemerintah yang seyogianya mengayomi, melindungi dan memberikan kesejahteraan justru membunuh anaknya secara perlahan, dan lebih memilih mengorbankan demi kepentingan orang lain bahkan dirinya sendiri. Sungguh egois bukan, maka yang akan di dapat rasa kepercayaan sang anak akan hilang dan hal ini akan berpotensi pada pembangkangan yang beralasan.

ads

Kemudian kita beralih pada ranah rumah tangga. Menjadi seorang ibu tidak hanya sekedar menjadi induk, yang hanya mampu memberikan tempat tinggal, makan, minum dan pakaian saja. Jika hanya itu yang kita lakukan maka kita tak ubahnya melakukan kebiasaan dan naluri binatang. Selayaknya seorang ibu memberikan hak anak berupa pendidikan akhlak, akidah dan ilmu lainnya yang akan menjadikannya berbeda dengan yang lain sehingga potensi berpikirnya akan membawa pada kepribadian Islam.

Inilah modalnya kelak, untuk terjun ke masyarakat sebagai pemuda dan pemudi penjaga peradaban Islam. Berguna bagi banyak orang serta membawa kemudahan bagi orang lain. Sehingga ibu dikatakan sebagai pendidik pertama dan utama, agar sang ibu tidak akan kehilangan anaknya sampai kapanpun. Bahkan akan menjadi aset dunia akhirat.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb.

Penulis: Nur Rahmawati, S.H.

ads

Video

Comment