Haruskah Kita Turut Melakukan Tindakan Konformitas?

ads

┬áTajukutama.com, Makassar – Aktivitas demonstrasi saat ini menjadi perbincangan hangat public, baik di televisi ataupun di social media. Aksi demonstrasi yang terjadi akhir-akhir ini bukan hanya dari kalangan mahasiswa saja, tetapi juga dari berbagai kalangan, seperti buruh, tani, dan pelajar. Namun, terdapat segelintir yang mengikuti aksi hanya karena alasan ikut-ikutan tanpa memiliki kejelasan alasan. Melalui kacamata psikologi, hal ini disebut sebagai konformitas.

Konformitas: konformitas sendiri merupakan suatu jenis pengaruh sosial yang mana individu tertentu mengubah pola perilaku untuk menyesuaikan diri dengan pola sosial yang terjadi pada tempat dimana dia berada. Perlu dicatat bahwa dalam konformitas itu sendiri awalnya individu memiliki suatu pola perilaku atau keyakinan akan suatu nilai yang berbeda,.

Namun karena individu ingin menganggap dirinya bagian dari suatu kelompok maka individu tersebut harus menyesuaikan diri dengan kelompoknya. Saat ini terdapat banyak fenomena dimana orang berperilaku hanya karena didasari oleh alasan bahwa orang lain juga melakukannya tanpa benar-benar tahu apa makna dan alasan dibalik perilakunya tersebut.

ads

Biasanya perilaku konformitas terjadi karena individu tidak memiliki banyak informasi sehingga ia melihat orang lain dan kemudian menganggap orang tersebut sebagai orang yang memiliki informasi yang lebih banyak dibanding dirinya. Rasa takut individu akan dianggap melakukan penyimpangan social maka individu cenderung memendam dan menekan keyakinannya tersebut dan mengikuti pola yang berlaku di lingkungan social dimana dia berada. Disamping itu kondisi kelompok yang memiliki kekompakan yang bagus akan menjadi salah satu factor pemikat individu.

Tak hanya itu individu yang menaruh kepercayaan yang besar terhadap suatu kelompok juga dapat menjadi salah satu penyebab perilaku konformitas tersebut. Semakin besar kepercayaan individu terhadap kelompok yang diprcaya sebagai sumber informasi maka tak bisa dipungkiri bahwa perilaku konformits akan semakin kuat. Kemudian kepercayaan diri yang lemah akan membuat individu akan memiliki kecenderungan untuk menggantungkan dirinya ke orang lain yang kemudian dapat memperkuat perilaku konformitas.

Dengan itu kepercayaan diri yang tinggi dapat menjadi sebuah hal yang dapat menurunkan resiko individu untuk memiliki perilaku konformitas. Kepercayaan diri dapat membuat individu lebih percaya dengan nilai dan pendapat dirinya sendiri dan berperilaku sesuai dengan nilai dan pendapat yang diayakini tersebut.

Demonstrasi merupakan hak setiap individu dalam mengungkapkan pendapat, apalagi bila dilakukan secara bijaksana dan atas analisa yang matang. Seringkali kita melihat banyak pelajar atau mahasiswa yang tertangkap saat melakukan demo tidak mengetahui alasan mereka melakukan aksi demonstrasi karena alasan hanya ikut-ikutan saja. Sebagai makhluk social, perilaku konformitas merupakan hal yang wajar, namun seringnya konformitas akan membuat individu kehilangan individualitas dan kebutuhan mempertahankan kontrol atas hidup.

Penulis: Ida Ariani (Akuntansi UINAM)

ads

Video

Comment