Perempuan Butuh Khilafah

ads

Tajukutama.com, Makassar – Melihat fakta saat ini, sungguh bertolak belakang dari firman Allah Swt tersebut. Umat Islam terpecah belah, bahkan tak sedikit dibantai di berbagai negara. Penyebabnya salah satunya faham feminisme, yang menginginkan kesetaraan perempuan dan laki-laki. Kondisi ketertindasan perempuan di barat ini yang memunculkan faham feminisme, mereka menganggap perempuan bukan hanya sebagai pemuas laki-laki.

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik(TQS:3:110).

Para aktivis feminis menganggap aturan Islam membuat perempuan menjadi tertekan karena tidak memihak kebebasan perempuan untuk berkembang. Perempuan seakan terkekang dan terbelakang. Selain itu, sistem kapitalisme materialistis yang ada menyeret perempuan untuk menjadikan materi (kedudukan, uang dan gaya hidup) sebagai standar kebahagiaan.

ads

Bahaya Paham Feminisme

Femisme menjadikan ide-ide kapitalis sebagai pijakan. Para feminis menyatakan persoalan bahwa persoalan perempuan terselesaikan dengan membebaskan perempuan berkiprah dimanapun untuk mengangkat nasib perempuan, termasuk dalam pemberdayaan ekonomi perempuan dalam perspektif demokrasi kapitalis.

Dengan disahkannya Suistainable Development Goals (SDGs) di Markas besar PBB pada tahun 2015. Dalam hal ini SDGs mengaitkan isu kemiskinan dengan kaum perempuan. Selain itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berkomitmen untuk menentang segala bentuk diskriminasi, termasuk terhadap perempuan dan anak perempuan lewat peringatan Hari Kesetaraan Upah Internasional pada 18/9/2020.

Lebih lanjut, dalam proyek penggerak roda ekonomi, kebijakan itu tertuang dalam PP No 23 tahun 2020 dengan suntikan dana sekitar 695 triliun, untuk BUMN, UMKM, koperasi, dan investasi pemerintah, kaum hawa (perempuan) 60 persen dijadikan andalan utama. Karena pada masa pandemi ini kaum perempuan berkontribusi untuk membangun ekonomi keluarga.

Adanya pelibatan perempuan dalam isu mengentaskan kemiskinan, sejak dideklarasikan oleh PBB tahun 2000. Karenanya dalam acara ini perempuan didorong dalam problem pemiskinan global dengan cara aktif dalam kegiatan ekonomi atau produksi.

Inilah yang masif dipropagandakan sebagai pemberdayaan ekonomi perempuan (PEP), dengan PEP ini diharapkan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi negara, dan menghapus problem kemiskinan dunia. Proyek PEP diharuskan dengan proyek ide kesetaraan gender, yakni pada tahun 2030 tercipta kesetaraan mutlak laki-laki dan perempuan.

Dorong Perempuan Bekerja, Negara Berlepas Tangan

Laporan perekonomian 2019 Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, kesenjangan antara upah laki-laki dan perempuan semakin lebar. Upah untuk pekerja laki-laki lebih tinggi daripada perempuan. Selama periode 2015-Februari 2019, selisihnya mencapai Rp492,2 ribu.

Selain itu, perempuan juga cenderung ditempatkan pada posisi yang bernilai rendah. Hal ini menjadi tantangan bagi perempuan dalam dunia ketenagakerjaan untuk mendapatkan pekerjaan, pendapatan, dan posisi kepemimpinan yang setara. Intinya perempuan didorong untuk bekerja.

Menurut Kementerian Keuangan, kurang dari 50 persen perempuan berada di angkatan kerja bekerja sebagai profesional. Sementara 30 persen menduduki posisi manajerial yang dibayar lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Agar segera terwujud upah setara, perlu ada upaya sistemis untuk melawan ketidaksetaraan yang menempatkan perempuan dalam upah yang rendah. Negara wajib meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang ekonomi dan menerapkan Women’s Empowerment Principles. Dan penetapan tanggal 18 September 2020 sebagai International Equal Pay Day yang pertama ternyata merupakan Resolusi Majelis Umum PBB pada tanggal 18 Desember 2019.

Penetapan ini bertujuan untuk menghormati hak asasi manusia dan meningkatkan upaya negara-negara anggota PBB dalam mewujudkan upah setara demi mencapai kesetaraan gender dan SDGs pada tahun 2030 juga merupakan tindak lanjut dari Resolusi Dewan HAM PBB pada sesi ke 41.

Dalam resolusi tersebut disebutkan bahwa Kesenjangan upah merupakan penghalang pencapaian kesetaraan gender dan pemberdayaan ekonomi perempuan dan anak perempuan, dan untuk realisasi penuh hak asasi mereka. Bahkan Resolusi dewan HAM PBB ini juga meminta untuk menghilangkan semua hambatan, termasuk politik, hukum, sosial, ekonomi, kelembagaan, atau tafsir budaya dan agama yang menghambat terwujudnya kesetaraan.

Apalagi menurut laporan WEF dalam Global Gender Gap Report 2020, disebutkan bahwa dunia butuh 257 tahun untuk mewujudkan kesetaraan gender dalam bidang ekonomi. Untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam dunia kerja dan meningkatkan upah.

Rapuhnya Fundamental Ekonomi Kapitalis

Khasnya ekonomi kapitalisme dengan mengeksploitasi dalam pekerjaan, lalu diiming-imingi kesejahteraan, setelahnya mati perlahan-lahan. Sungguh sangat memilukan kondisi perempuan dalam kapitalisme. Kalau tidak diselamatkan, akan terjadi degradasi kualitas generasi manusia, sebab perempuan mengabaikan peran utamanya mengasuh dan mendidik generasi.

Proyek ini bertentangan dengan Islam dan sangat berbahaya bagi umat. Proyek ini akan berpotensi mengeksploitasi kaum perempuan dan menjebak mereka untuk tegaknya ekonomi kapitalisme yang hampir runtuh. Selanjutnya akan melunturkan fitrah kaum perempuan sebagai ummun warabbatun bait yang akan menghancurkan bangunan keluarga dan masyarakat bagi munculnya generasi terbaik.

Perempuaan bekerja/perempuan berdaya harus siap dengan peran ganda dengan bertanggung jawab terhadap dirinya, keluarga masyarakat dan Allah SWT. Ini tentu tidak mudah untuk menyiapkan generasi cemerlang.

Maka, di sinilah peran negara menjadi vital. Negara yang mengadopsi sistem kapitalisme tidak pernah memosisikan perempuan sebagai kehormatan yang wajib dijaga. Sistem buatan manusia ini memandang perempuan sebagai faktor produksi, bahkan sebagai barang komoditas.

Peraturan perundangan dan kebijakan ramah perempuan dibuat bukan dalam rangka menjaga kehormatannya, namun semata untuk meningkatkan nilai ekonomi perempuan.

Perempuan didorong berpendidikan tinggi semata agar perempuan layak bekerja menaikkan profit korporasi, bukan agar perempuan menjadi pendidik terbaik bagi generasi. Sistem kapitalisme-liberal sangat licik dalam mengeksploitasi perempuan sekaligus menghancurkan institusi keluarga.

Islam Melindungi Perempuan

Islam adalah agama fitrah. Fakta membuktikan bahwa demokrasi-kapitalisme telah nyata tidak mampu membawa kaum perempuan pada tatanan kehidupan yang mensejahterakan.

Berbeda halnya jika perempuan hidup dalam naungan syariat Islam. Islam menjaga kemuliaan perempuan sesuai dengan fitrah penciptaannya. Perempuan dapat berperan optimal sebagai istri, ibu, dan pengatur rumah tangga dalam keadaan sejahtera karena Islam memiliki berbagai mekanisme yang dapat menjamin nafkahnya.

Kemuliaan perempuan juga akan terjaga karena Ia hidup bersama dengan mahramnya dalam keluarga yang dilandasi keimanan, dan di tengah masyarakat yang terjaga ketakwaannya. Di sisi lain, Islam juga membolehkan perempuan untuk bekerja. Namun bekerjanya perempuan adalah untuk mengamalkan ilmu dan memberi manfaat pada umat, bukan tuntutan menanggung nafkah keluarga. Yakni dengan sistem khilafah yang mampu mensejahterakan, tak hanya bagi muslim tapi juga non muslim, tak hanya laki-laki tapi juga perempuan.

Ini terbukti, banyaknya pernyataan diantaranya Will Durant, seorang sejarawan barat memuji kesejahteraan negara khilafah. Dalam buku yang Ia tulis bersama istrinya Ariel Durant “Story of Civilization”. Ia mengatakan “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Penomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka”.

Tanpa khilafah penjajahan ata umat islam terjadi sepanjang tahun tak berkesudahan.
Khilafah kebutuhan mendesak bagi dunia,
InsyaaAllah akan segera tegak.

Pertama, kepastian janji kemenangan dari Allah SWT. Allah سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى berfirman dalam QS An Nur: 55 yang artinya:

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kalian dan beramal saleh, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa. Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah di ridai-Nya untuk mereka dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Aku. Dan siapa saja yang kufur sesudah (janji) itu,maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Kedua, membentangnya kekuasaan umat Islam di akhir zaman. Rasulullah ﷺ bersabda, yang artinya

Sesungguhnya Allah SWT telah mengumpulkan (dan menyerahkan) bumi kepadaku, sehingga aku bisa menyaksikan timur dan baratnya. Sesungguhnya kekuasaan umatku akan mencapai apa yang telah dikumpulkan dan diserahkan kepadaku darinya, dan aku dianugerahi dua perbendaharaan yakni merah (emas) dan putih (perak).” (HR Muslim, Ahmad, Abu Dawud, Al-Tirmidzi).

Ketiga, mencatut Perkataan Imam Al-Ghazali Pentingnya Imamah/Khilafah. Dalam kitab beliau tersebut, yaitu dalam ungkapan:

“Maka wajibnya mengangkat seorang imam/Khalifah itu adalah termasuk perkara syariat yang sangat penting/mendesak (dharuruyyat asy syar’), yang tidak ada celah untuk boleh ditinggalkan.”(Al-Iqtishâd fil I’tiqâd, hlm 395).

Wa ma tawfiqi illa billah.

Oleh: Safwatera Weny (Aktivis Peduli Umat)

ads

Video

Comment