Perceraian Tinggi, Ketahanan Keluarga Diuji

ads

Tajukutama.com, Makassar – Pernikahan merupakan ikatan suci untuk menyatukan dua insan yang berbeda. Membangun mahligai dan mengukir asa bersama. Hubungan terjalin hingga maut memisahkan. Dambaan keluarga ideal menjadi incaran.

Namun sungguh disayangkan, berbagai problematika menyerang sendi-sendi kehidupan berakibat pada retaknya ketahanan keluarga. Mulai dari faktor ekonomi hingga KDRT menjadi faktor penyebab pasangan suami istri melayangkan gugatan cerai.

Di Sulawesi Barat setidaknya 300 kasus perceraian yang diajukan ke Pengadilan Agama Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar) sejak Januari hingga Agustus 2020, sebanyak 70 persen perceraian akibat ekonomi. (tagar.id, 15/08/2020).

ads

Sedangkan di wilayah Makassar sendiri terjadi peningkatan angka perceraian. Pihak Pengadilan Agama (PA) Makassar Klas IA tekah mencatat, jumlah gugatan cerai memasuki angka 1010 kasus sejak Januari hingga awal Juni 2020. Baik permohonan talak dari suami atau gugatan cerai dari istri. (Indozone.id, 5 Juni 2020).

Akar Masalah Meningkatnya Perceraian

Tak dapat dipungkiri, pandemi memberikan dampak yang sangat besar bagi ketahanan suatu keluarga. Faktor ekonomi menjadi pemicu utama keretakan ketahan keluarga. Pandemi telah menambah daftar panjang persoalan problematika keluarga.

Ditambah dengan abainya negara dalam menyediakan lapangan kerja yang layak bagi warganya, memenuhi kebutuhan dasar berupa sandang, pangan dan papan. Serta penyediaan sarana publik yang berkualitas untuk membentuk ketahanan keluarga.

Adanya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) menimbulkan tekanan ekonomi pada sebagian besar keluarga. Semakin membuat sulitnya memenuhi kebutuhan hidup akibat berkurangnya pemasukan. Berbanding terbalik dengan biaya hidup yang harus dikeluarkan. Berujung pada stress dan depresi. Membuat seseorang untuk melakukan tindakan kekerasan terhadap pasangan atau bahkan terhadap anak sendiri. Alhasil, cerai menjadi pilihan terakhir.

Namun, sungguh disayangkan. Perceraian bukanlah akhir dari segala persoalan. Sebaliknya, perceraian justru akan menambah daftar persoalan. Salah satunya akan memberikan dampak buruk kepada anak-anak, peluang kenakalan anak dan remaja sangat besar. Sebab, mereka kehilangan figur dan panutan yang dapat membimbing mereka.

Jika pun tetap mempertahankan pernikahan, keluarga ibarat terminal. Tempat persinggahan sebatas pelepas lelah bagi para anggota keluarga. Tak ada lagi ikatan yang kuat di antara sesama keluarga. Fungsi masing-masing anggota tak lagi berjalan ideal. Ketahanan keluarga menjadi rapuh.

Jika ditelusuri, meningkatnya angka perceraian tiap tahunnya bukanlah hal yang baru. Meski kondisi pandemi saat ini ikut memperparah, namun ini adalah efek domino diberbagai sektor. Tak terkecuali keluarga. Penyebab utamanya tidak lain karena akibat penerapan sistem kapitalis-sekular.

Sistem yang lahir dari pemisahan agama dan kehidupan. Sistem yang mengagungkan kebebasan individu (liberalisme) dan nilai materi (materialisme) sebagai tujuan tertinggi yang harus diraih. Walhasil, nilai-nilai agama hanya diterapkan dalam aspek ritual semata, bukan sebagai solusi dan pedoman dalam kehidupan.

Derasnya arus paham liberalisme dan materialisme ini telah sukses menghancurkan bangunan keluarga. Ketahanan keluarga kian rapuh. Dambaan keluarga ideal pun sirna. Padahal, telah menjadi kewajiban bagi setiap keluarga muslim untuk memperkuat ketahanan keluarga mereka. Allah SWT berfirman:

Wahai orang-orang yang beriman ! peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.“ (TQS. at-Tahrim: 6)

Lemahnya bangunan akidah tiap individu keluarga menjadi salah satu faktor rapuhnya ketahanan keluarga. Ketakwaan dan ketaatan Allah SWT tidak tertanam kuat, sehingga anggota keluarga jauh dari nilai-nilai Islam. Saling tak memahami hak dan kewajiban masing-masing di samping pemahaman yang kurang terhadap hukum syariat seputar pergaulan dalam rumah tangga. Tak ada standar yang sahih dalam bertindak dan berperilaku. Sehingga tiap individu dalam keluarga berbuat semaunya saja.

Adanya penerapan ideologi kapitalisme yang diadopsi oleh pemerintah telah melahirkan aturan-aturan dan nilai-nilai yang telah merusak keluarga muslim. Menjauhkan keluarga dari nilai-nilai Islam, sehingga keluarga tak lagi terjaga.

Islam Menjaga Ketahanan Keluarga

Dalam pandangan Islam, keluarga sebagai ikatan terkuat yang berfungsi sebagai pranata awal pendidikan primer. Sebagai tempat pembelajaran pertama dan utama tentang kehidupan bagi anggota-anggotanya. Tempat lahirnya generasi penerus peradaban. Islam sebagai agama yang sempurna telah menetapkan tata aturan agar keluarga berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu, sistem Islam berbeda dengan sistem kapitalis. Dalam Islam, meskipun negara tidak mencampuri urusan privacy sebuah keluarga, tapi negara akan memastikan setiap anggota keluarga mampu menjalankan peran dan fungsinya dengan baik. Sehingga mampu melahirkan generasi berkualitas.

Dalam Islam, negara berkewajiban memastikan setiap individu, keluarga, dan masyarakat bisa memenuhi tanggung jawabnya memenuhi kesejahteraan. Negara memastikan setiap kepala keluarga memiliki mata pencaharian dan mewajibkan kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap perempuan dan anak-anak untuk memenuhi hak mereka dengan baik.

Islam mewajibkan para suami atau para wali untuk mencari nafkah. Untuk itu negara wajib menyediakan lapangan kerja bagi laki-laki agar dapat memberi nafkah pada keluarga mereka, memberikan pendidikan dan pelatihan kerja, bahkan jika dibutuhkan akan memberikan bantuan modal.

Adapun kebutuhan pokok berupa jasa seperti keamanan, kesehatan, dan pendidikan, pemenuhannya mutlak sebagai tanggung jawab negara. Hal ini karena pemenuhan terhadap ketiganya termasuk ”pelayanan umum” dan kemaslahatan hidup terpenting.

Dalam hal kesehatan, penyediakan berbagai fasilitas, baik berupa tenaga medis, rumah sakit, maupun aspek-aspek penunjang lain yang bisa meningkatkan taraf kesehatan masyarakat dan bisa diakses secara mudah, bebas biaya, atau murah juga merupakan kewajiban negara sebagai jaminan kesehatan pada rakyatnya.

Dengan demikian, ketika negara menjalankan fungsinya sebagai pengurus dan pelayan rakyatnya dengan baik, maka ketahanan keluarga akan tetap terjaga. Meski badai wabah atau pandemi datang menyerang. Sebab, rakyat merasa terjamin hidupnya dengan adanya kepedulian dan perhatian dari penguasa. Dan hal ini, hanya bisa terwujud maksimal dalam sistem Islam. Bukan yang lain.

Walllahu a’lam[]

Penulis : Hamsina Halik, A. Md. (Pegiat Revowriter) 

ads

Video

Comment