Masjid Jami Tua, Bukti Jejak Kekhilafahan di Bumi Sawerigading

ads

Tajukutama.com, Makassar – Adat bertumpu pada agama dan agama yang bertumpu pada kitab suci Al-Quran merupakan landasan dasar yang mewarnai sendi kehidupan masyarakat di Bumi Sawerigading. Bumi dimana keberadaan Masjid Jami Tua yang hingga saat ini masih berdiri kokoh di Kota Palopo, sebagai bukti sejarah bahwa kekhilafahan sangat erat hubungannya dengan kota ini.

Masjid ini merupakan salah satu bangunan peninggalan Islam dari Kerajaan Luwu. Dibangun oleh Pattipasaung, Datu’ Luwu ke-16 yang bergelar Sultan Abdullah (1615-1637) serta putra Raja Luwu pertama yang memeluk Islam yaitu La Patiware Daeng Parabu, pada tahun 1619. Hanya 100 meter dari Masjid Jami Tua, terdapat Istana Langkanae, pusat pemerintahan Kerajaan Luwu. Saat Pattipasaung memindahkan ibukota dari Malengke menuju Ware’ (kini Palopo) di tahun-tahun awal pemerintahannya, turut dibangun pula kompleks pusat pemerintahan yang baru (Makassar, IDN Times, 13/5/2020).

Arsitektur Masjid Jami Tua memperlihatkan perpaduan budaya dan simbol agama Islam yang begitu kuat. Hal ini dapat kita lihat pada struktur bangunan tiga susun yang mengambil konsep rumah panggung Bugis, atap bersusun tiga dan sokoguru khas Jawa, lima teralis besi pada jendela sebagai simbol salat lima waktu umat Islam, dan lima tiang penyangga dalam masjid yang melambangkan rukun Islam, serta satu buah pintu masuk masjid yang melambangkan simbol keesaan Allah SWT.

ads

Menurut penuturan salah satu tokoh adat istana, Andi Syaifuddin Kaddiraja dalam sebuah wawancara dengan stasiun GTV, bahwa pada abad ke-16 datang tiga orang ulama dari Aceh; yaitu Datuk Patimang atau Datuk Sulaeman, Datuk ri Bandang, dan Datuk ri Tiro. Ketiga ulama tersebut adalah murid dari Sunan Giri.

Selanjutnya, dalam menyebarkan Islam, para ulama tersebut melakukan dakwah dengan membagi dalam tiga pendekatan. Pertama, Datuk Sulaeman dengan penguatan tauhid. Kedua, Datuk ri Bandang dengan penguatan syariah. Ketiga, Datuk ri Tiro dengan tasawufnya.

Seperti diketahui dari beberapa literatur bahwa Islamisasi di Sulawesi Selatan dibawa oleh para ulama yang berasal dari Aceh dan masuk ke Sulsel dengan damai melalui pintu istana yang dimulai dari raja kemudian turun kepada rakyat (top down). Begitupun yang terjadi di Kesultanan Luwu, dimulai dari Datuk Andi Patiware yang saat itu memerintah, selanjutnya ke rakyat Luwu secara keseluruhan.

Momentum Muharram

Ada yang berbeda dan special di tahun baru Islam tahun ini yakni tayangan film dokumenter Jejak Khilafah di Nusantara (JKdN) pas di tanggal 1 Muharram 1442 H bertepatan dengan 20 Agustus 2020. Tayangan perdana film JKDN berhasil menyulap netizen, terbukti menjadi trending topic di Twitter dengan tagar#JejakKhilafahdiNusantara.

Animo masyarakat akan tayangan film yang berkualitas di tengah suramnya tayangan-tayangan di media, terlebih di media sosial. Rasa dahaga akhirnya terbayar dengan sajian sebuah film dokumenter yang dikemas sangat apik. Film yang digarap oleh sejarahwan Muslim dengan sangat profesional dan secara akademis dapat dipertanggungjawabkan.

Pencarian data primer langsung ke sumbernya -dimana jejak sejarah itu hampir terkubur- dan data sekunder dari para sejarahwan, akhirnya membuat puzzle-puzzle itu bisa terangkai dengan indah.

Tahun baru Islam adalah momentum terbaik untuk kembali me-refresh ingatan umat Islam tentang jejak sejarah Islam yang pernah ada di nusantara, termasuk di Bumi Sawerigading. Film JKdN tersebut sangat runut memaparkan bagaimana keterkaitan kekhilafahan Utsmaniyah dengan nusantara.

Dimulai dari Kesultanan Aceh yaitu Sultan Alauddin Riayat Syah al Qadr yang berbaiat kepada Khalifah dan meminta bantuan militer untuk melawan Portugis yang berpusat di Malaka saat itu. Sultan Selim II dari Khilafah Utsmani kemudian mengirimkan bantuan dua kapal besar ke Aceh. Pun pada tahun 2013 di Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh ditemukan dinar dan dirham dari Khilafah Utsmaniyah dan Kesultanan Aceh.

Fakta-fakta ini sangat jelas menggambarkan bahwa nusantara sangat erat hubungannya dengan kekhilafahan, termasuk di Bumi Sawerigading. Utusan ulama dari Aceh yang notabene berkaitan dengan kekhilafahan Utsmaniyah (dilihat dari runutan sejarah di atas), menunjukkan bahwa Islam hadir di Bumi Sawerigading dalam tataran politik pemerintahan.

Hal ini juga bisa terlihat dari diterimanya para ulama tersebut oleh pihak kerajaan atau kesultanan. Pun, berislamnya para Datuk kemudian turun ke rakyat menjadi penguat akan hal tersebut.

Tidaklah berlebihan jika dikatakan bahwa nusantara berutang budi kepada Khilafah Islamiyah, baik dalam urusan dakwah, peribadahan (semisal haji) maupun militer. Jadi, sangatlah bijak jika bukti sejarah Islam itu tetap terpelihara dan menjadi pelajaran bahwa Islam bisa kita anut sampai hari ini karena jasa kekhilafahan.

Wallahualam bishshowab.

Penulis : Dr. Suryani Syahrir, S.T., M.T.
(Dosen dan Pemerhati Sosial)

ads

Video

Comment