Kontroversial Pernyataan Generasi Good Looking

ads

Tajukutama.com, Makassar – Akhir-akhir ini sangat miris ditengah persoalan bangsa yang begitu rumit. Apalagi pandemi masih melanda negeri. Namun lagi-lagi para petinggi negeri membuat kegaduhan di tengah publik.

Kali ini pernyataan kontroversial kembali terlontar dari Menteri Agama, Fachrul Razi. Pernyataan tersebut terlontar kala Ia menjadi pembicara pada webinar bertajuk “Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara”, di kanal YouTube Kemenpan RB, Rabu (2/9/2020) lalu.

Menag Fachrul Razi mengungkap bahwa kelompok atau paham radikalisme masuk ke Masjid-Masjid salah satunya adalah melalui anak good looking. Sontak, pernyataan Menag yang akhirnya dimuat oleh CNN itu sempat menjadi trending di Twitter. Hingga Jumat (4/9) pagi, #goodlooking masih nangkring di trending topic Twitter.

ads

Menurut Menag “Cara masuk radikalisme gampang; pertama dikirimkan seorang anak yang good looking, penguasaan Bahasa Arabnya bagus, hafiz (hafal Alquran), mereka mulai masuk,” kata Fachrul dalam webinar bertajuk ‘Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara’, di kanal Youtube Kemenpan RB, Rabu (2/9) dikutip dari CNN Indonesia.

Pernyataan kontroversial Menag tersebut sontak mendapat tanggapan dari berbagai pihak. Wakil Ketua Partai Gelora, Fahri Hamzah menuliskan sindirannya tentang Menteri Agama Fachrul Razi yang menyatakan radikalisme anak good looking. Usai pernyataan kontroversial Menag itu, Fahri terpantau seharian menyentil soal istilah ‘good looking’ yang ia tulis sebagai tagar cuitannya per hari Jumat (4/9/2020).

“Lapor Pak Menteri Agama, subuh ini di Masjid saya banyak orang #good looking. Laporan selesai,” sentil Fahri Hamzah.Tak hanya itu, ia juga menuliskan sindiran terhadap Menag Fahrul Razi tentang menteri yang minter dengan agama. “Berat kalau Menteri Agama minder dengan agamanya #GoodLooking,” tulis Fahri (Suara.com, 4/9/2020).

Sementara itu dilansir dari laman Pikiran Rakyat TASIKMALAYA, Anggota DPR RI Fadli Zon blak-blakan meminta Presiden Joko Widodo mengganti Menteri Agama Fachrul Razi. Hal itu diungkap lewat cuitan di akun Twitter pribadinya. Fadli menilai pernyataan Fachrul Razi kerap menimbulkan kontroversi.

Menteri Agama ini pernyataan-pernyataannya sering menimbulkan kecurigaan, salah paham, perselisihan atau malah Islamophobia. Sebaiknya menteri ini diganti saja Pak @jokowi,” cuit Fadli Zon (4/9/2020).

Hal senada juga datang dari Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Tengku Zulkarnain. Dia mengejar bukti adanya orang yang hafidz Alquran dan radikal. Tengku Zul meminta ditunjukkan sudah ada berapa Hafizh Alquran yang radikal, apalagi jadi teroris…?

Menurutnya bicara sebagai pejabat harus pakai data. Dan bandingkan dengan berapa banyak manusia yang tidak mendalami agama jadi penjual diri, rampok, maling, koruptor, homo, pengkhianat bangsa, penjual negara…?” kata Tengku melalui akun Twitter.

Tengku mengangkat contoh kasus pesta seks yang dilakukan kaum gay di sebuah apartamen Jakarta yang digerebek polisi baru-baru ini, juga koruptor yang kabur ke luar negeri. Dia yakin sekali, di antara mereka tak ada satupun yang Hafidz Alquran atau menjadi imam masjid (suara.com, 4/9/2020).

Kegaduhan dan pernyataan kontroversial sebagaimana diketahui, bukan kali ini saja yang datang dari Menag Fachrul Razi hingga menuai polemik. Sejak dilantik 23 Oktober 2019, menteri yang menyatakan “saya bukan menteri agama Islam” ini, secara beruntun membuat gaduh di masyarakat.

Desember 2019 lalu, ia menyebut Aparatur Sipil Negara (ASN) yang tidak suka Pancasila untuk pulang saja. Di waktu yang sama, Kemenag memindahkan materi Khilafah dari pelajaran fikih ke pelajaran sejarah.

Sebelumnya, November 2019, Fachrul mempermasalahkan cadar dan celana cingkrang di kalangan ASN, yang disebutnya tidak sesuai aturan. Ia juga menggagas sertifikasi dai dan mewajibkan majelis taklim terdaftar di kementeriannya dengan alasan yang sama: demi menangkal radikalisme.

Stigmatisasi terhadap Islam, ajaran dan umat Islam oleh Menag ini memunculkan banyak persepsi.

Ya, apa yang disampaikan oleh Menag tersebut memang patut untuk dikritisi. Sebab ini menyangkut hal yang sensitif yaitu agama Islam itu sendiri. Semua orang tentu tidak sepakat dengan adanya radikalisme. Namun jika radikalisme itu kemudian dikaitkan dengan Islam dan ajarannya tentu tidak beralasan. Apalagi jika dikatakan hafidz Quran, generasi yang sering ke Masjid, jadi imam shalat sebagai cikal bakal radikalisme.

Seperti dilansir dari Mnews, pernyataan Menag ini juga sangat disayangkan tokoh mubaligah, Ustazah Asma Amnina. Ia mengkritisi institusi Depag sebagai lembaga kapabel yang seharusnya mengeluarkan pernyataan cerdas dan berdalil. Pernyataan “Ini justru menggiring umat pada narasi dangkal dan mengeluarkan pernyataan yang sangat provokatif, penuh kebencian terhadap Islam,” (4/9/2020).

Ustazah Asma yang juga pakar politik Islam ini menyatakan, seharusnya bangsa ini bangga dengan generasi yang dekat dengan masjid dan fasih terhadap bahasa Alquran bahkan jadi penghafalnya. “Sebab generasi demikianlah yang akan memberi kontribusi atas pembangunan bangsa, hadir memberi solusi atas kerusakan remaja akibat liberalisme dan paham-paham Barat yang merusak,” pungkasnya.

Polemik dan pernyataan kontroversial dari Menag ini semestinya harus disudahi, persoalan bangsa ini sungguh sangat memprihatinkan. Pandemi tak kunjung teratasi, dampaknya tidak lagi hanya pada kesehatan, namun juga sampai pada sosial, ekonomi hingga perceraian pasutri. Belum lagi generasi yang mengalami degradasi moral dan akhlaq, di mana generasi saat ini hidup dalam kubangan free sex, narkoba, LGBT, tawuran dan sederet kenakalan remaja lainnya.

Harusnya ini yang menjadi fokus dari para punggawa negeri untuk segera dicari solusinya. Bukan malah selalu membuat narasi dan pernyataan yang hanya menimbulkan perpecahan dan terkesan seperti Islamopobia yang seperti menyudutkan Islam, ajarannya dan umat Islam itu sendiri. Padahal Indonesia adalah negeri yang mayoritas muslim terbesar di dunia, kemerdekaan negeri ini juga tidak lepas dari perjuangan dari ulama, dan umat Islam.

Dalam perspektif Islam sendiri tidak ada ajarannya yang mengajarkan kekerasan, apalagi merusak keutuhan negara. Islam yang dibawa nabi Muhammad SAW merupakan ajaran yang rahmat bagi seluruh alam. Sepanjang sejarah peradaban manusia malah sistem Islamlah yang menyatukan umat dalam satu kepemimpinan baik muslim maupun non muslim. Beraneka ragam suku, agama, budaya, berkumpul tanpa ada diskriminasi dalam kepemimpinan Islam.

Kehidupan yang sejahtera, damai, adil, makmur dan tentram dirasakan tidak hanya muslim namun juga non muslim. Jadi atas dasar apa kemudian di negeri ini Islam dan ajarannya selalu dipersoalkan bahkan dituduh akan mengancam keutuhan bangsa dan negara. Justru sistem aturan yang diadopsi bangsa inilah yaitu kapitalis sekulerisme-demokrasi yang jelas-jelas mengancam kedaulatan bangsa ini dan merusak segala lini tatanan kehidupan bernegara di negeri ini.

Sebagai negeri yang sudah merdeka ke-75 tahun maka saatnya negeri ini berbenah, membuka mata, pikiran bahwa fokus persoalan bangsa adalah bagaimana menjadikan bangsa ini besar, berdaulat, dan mampu memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Namun jika masih mengadopsi sistem kapitalis-sekuler-demokrasi tentu tidak akan di dapatkan.

Hanya dengan kembali pada sistem Islam dalam mengatur negara maka akan dicapai negara yang besar, akan diraih kebahagiaan, kebaikkan dan keberkahan bagi seluruh umat. Bukan malah melakukan tudingan dan stigma terhadap Islam yang sangat tidak berdasar sama sekali. Sebab Islam telah terbukti dan teruji mampu mengurus kehidupan selama ratusan abad lamanya, sedangkan sistem kapitalis-sekuler hanya terbukti merusak dan membuat bangsa diambang kehancuran.

Wallahu ‘alam

Oleh: Nelly, M.Pd. (Aktivis Peduli Generasi, Pemerhati Masalah Sosial Masyarakat)

ads

Video

Comment