Pengirim dan Pemesan Narkoba Jenis Ekstasi Jaringan Belanda-Makassar Dikejar Polisi

Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap empat pelaku dalam kasus penyelundupan narkotika jenis ekstasi jaringan sindikat narkoba Belanda ke Makassar Sulawesi Selatan.

Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap empat pelaku dalam kasus penyelundupan narkotika jenis ekstasi jaringan sindikat narkoba Belanda ke Makassar Sulawesi Selatan.

ads

Tajukutama.com, Jakarta – Subdit IV Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri mengungkap empat pelaku dalam kasus penyelundupan narkotika jenis ekstasi jaringan sindikat narkoba Belanda ke Makassar Sulawesi Selatan.

Mereka yaitu, HT alias A (Ex. Polri), SN alias Doyok (Napi Rutan Makassar), H alias Hengky (Napi Lapas Narkotika Sungguminasa) HR alias Ardi (Napi lapas Narkotika Sungguminasa). Sementara pengirim dan pemesan jadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dan dalam pengejaran polisi.

Wakil Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri, Kombes Pol Wawan Munarwan mengatakan pengungkapan berawal dari informasi pada Jumat 31 Juli 2020 akan adanya pengiriman paket berupa narkotika dari Belanda ke Indonesia.

ads

Atas informasi itu, pihak kepolisian memastikan dan berhasil mendapatkan nomor resi pengiriman. Kemudian dilakukan penelusuran paket tersebut yang dikirim melalui ekspedisi. Dan disebutkan dalam resi pengiriman itu isinya adalah baju pengantin.

Pada Sabtu 1 Agustus 2020, paket sudah tiba di Bandara Soekarno Hatta Jakarta. Kemudian paket berupa koper berwarna biru dongker tersebut dilakukan X-Ray, sehingga terlihat ada benda mencurigakan di dinding koper selain baju pengantin, setelah dibuka ternyata disisipkan di belakang koper ialah Ekstasi dengan berat brutto 2,29 Kg.

“Pengirim paket tertera atas nama “John Cristoper” (Belanda) dengan tujuan “AS” dengan alamat Makassar, Sulawesi Selatan,” kata Wawan di Mabes Polri, Jakarta, Kamis (27/8/2020)

Kemudian, kata Wawan tim melanjutkan Control Delivery terhadap paket tersebut ke Makassar, dan berkoordinasi dengan ekspedisi cabang Makassar. Pada tanggal 4 Agustus 2020 ada seorang laki-laki mengaku dari Jakarta menelephone kantor cabang ekspedisi tersebut di Makasar dan meminta agar paket tersebut dikirimkan ke alamatnya. Namun pihak ekspedisi belum bisa mengirimkan lantaran ada biaya berupa Tax Impor yang harus dibayarkan oleh pihak penerima.

“Kemudian penelephone (H / Napi Lapas Narkotika di Makassar) melakukan pembayaran Tax Impor tersebut menggunakan nomor rekening BNI atas nama HA. Dari nomor rekening tersebut penyidik menemukan alamat HA yang merupakan adik dari tersangka H yang berada di Lapas Makassar,” jelas Wawan.

“Setelah dilakukan pembayaran terhadap Tax Impor, H menelephone ekspedisi untuk mengirimkan paket tersebut sesuai dengan alamat yang tertera yaitu di Ance dengoyo Lorong 3 nomor 57 Kecamtan Panakukang, Kota Makasar, namun alamat tidak ditemukan, sehingga pihak kurir menghubungi pihak penelepon H dan diberikan tempat untuk pengantaran yang baru di Gardu PLTU Daeng Jl. Abdullah Daeng Siruak, Makassar. Sehingga ekspedisi mengirimkan paket tersebut ke alamat yang sesuai, namun tidak ada yang mengambil maka paket tersebut kembali ke Gudang ekspedisi,” tambah Wawan dalam keterangan resminya.

Kemudian pada tanggal 10 Agustus 2020. Seorang laki-laki bernama R datang ke ekspedisi untuk mengambil paket yang tadi tidak sempat diterima. R merupakan orang yang ditemui oleh HR alias A di jalan dan disuruh dengan sengaja mengambil paket tersebut memggunakan mobil menuju ke kantor ekspedisi.

Ketika R menyampaikan maksud kedatangannya untuk mengambil paket, oleh pihak ekspedisi tidak diberikan karena tidak membawa KTP, lalu polisi mendatangi R dan menanyakan siapa yang menyuruhnya.

Ke polisi, R menjelaskan bahwa dia disuruh oleh HR alias A. Mengetahui hal tersebut polisi langsung melakukan penangkapan terhadap HR alias A dan dilakukan interogasi. Sehingga diketahui bahwa HR alias A disuruh oleh SN alias Doyok (napi Rutan Makasar) untuk mengambil paket tersebut.

“Sehingga dapat diketahui bersama bahwa jelas keterlibatannya bahwa ada kaitan pelaku yang diluar dan pelaku di dalam Lapas. Kualitas pengungkapan ini yang kita selalu sampaikan untuk menghadapi pemberantasan narkoba tidak bisa bekerja sendiri namun harus bekerjasama dengan instansi lainnya,” terang Wawan.

Wawan mengungkapkan bahwa, HT berperan sebagai orang yang mengambil paket ekspedisi cabang Makssar atas informasi dari SN, kemudian SN berperan sebagai memberikan informasi kepada HR untuk mengambil paket yang berisi Ekstasy dan jika berhasil meminta bagian 1.000 butir.

Sementara H bertindak sebagai pemesan paket, melakukan pengecekan ke Jumat tanggal 31 Juli 2020. Selain itu, ia juga yang melakukan pembayaran Jumat tanggal 31 Juli 2020 dan menyuruh Aci untuk melakukan pengawasan/pemantauan terhadap mobil ekpedisi yang akan mengirim Paket.

Kemudian, HR, berindak sebagai orang yang membukakan Rekening dan M-banking atas nama HA, melalui kakaknya yang bernama HA atas perintah H yang kemudian dipergunakan untuk bertransaksi narkotika. Turut mengendalikan orang yang bernama Aci, untuk memantau mobil ekpedisi yang akan mengantarkan paket yang berisi ekstasy.

DPO Pengirim dan Pemesan Narkoba Jenis Ekstasi

ads

Video

Comment