Gelar Diskusi Online Terkait Krisis Banjir Lutra, Syamsu Rijal: Masyarakat Butuh Edukasi Bencana Alam

ads

Tajukutama.com, Luwu Utara – Majelis Rayon KAHMI Universitas Hasanuddin (Unhas) bersama Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas serta MASIKA-ICMI Korwil Sulawesi Selatan (Sulsel), mengadakan sebuah diskusi online dengan tema “Telaah Krisis Banjir Bandang Penanggulangan dan Pencegahan”.

Yang menjadi pembicara dalam diskusi online tersebut yakni Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani, Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas, Prof. Dr Eng. Adi Maulana, serta Ketua Tim Penanggulangan Banjir Sulsel, Dr. Syamsu Rijal. Sedangkan yang menjadi moderator yakni Emban Ibnurysd Mas’ud.

Dalam diskusi kali ini yang menjadi pembicara pertama yakni Prof. Adi Maulana. Sesaat membawakan materinya, beliau sempat menuturkan bahwa kali ini merupakan kali kesebelas beliau mengikuti kajian terkait banjir bandang yang terjadi di Kabupaten Luwu Utara.

ads

Selain itu Prof. Adi juga menambahkan bahwa kali ini seharusnya tak lagi membahas terkait penyebab, melainkan harus fokus pada solusi kedepannya.

“Indonesia ini memang bisa dijuluki sebagai supermarket bencana. Jadi seharusnya kita fokus ke solusi bukan terus menerus membahas penyebabnya,” tutur Prof. Adi Maulana, selaku Ketua Pusat Studi Kebencanaan Unhas.

Masih kata dia, setelah melihat apa yang terjadi, dan untuk mencegah kedepannya. Kali ini perlu dilakukan sebuah literasi dini terkait penanggulangan bencana alam. Karena sebenarnya saat ini kondisi geologi wilayah sudah tidak mampu lagi diprediksi.

“Dalam artian, sebelumnya di Indonesia memiliki 2 musim, yakni hujan dan kemarau. Ketika hujan maka yang ekstrem adalah hujannya. Sementara ketika musim kemarau maka yang ekstrem adalah panasnya. Tapi sekarang contohnya di Luwu Utara hampir tiap hari tanah tak pernah kering,” tambahnya.

Prof. Adi juga mengungkap berdasarkan penelitian bahwa wilayah Masamba itu memang patut dijuluki sebagai dataran banjir. Hal tersebut dikarenakan wilayah yang ada di Masamba itu merupakan wilayah dataran yang dibentuk oleh dataran banjir.

Pihaknya juga menuturkan bahwa terjadinya banjir ini bukan disebabkan oleh single factor saja. Melainkan disebabkan oleh banyak faktor, misalnya fenomena global, alih fungsi lahan serta banyak lagi.

Sehingga perlu dilakukan sebuah mitigasi kedepannya baik itu bersifat struktural mitigation ataupun non struktural mitigation. Dan perlu adanya kolaborasi penta helix antara, pemerintah, akademisi, lembaga usaha, masyarakat serta media untuk turut berkontribusi dalam penanggulangan bencana alam tersebut.

Kendati demikian, pihaknya juga menambahkan bahwa manusia memang tak bisa melawan takdir atau sunnatullah. Namun manusia dibekali oleh akal dan pikiran. Sehingga pasti memiliki akal untuk memikirkan lebih dalam terkait mitigasi atau pengurangan resiko datangnya bencana alam.

Sementara itu, Ketua Penanggualan Banjir Sulawesi Selatan (Sulsel), Dr. Syamsu Rijal selaku pemateri kedua mengungkap bahwa dalam menanggapi situasi seperti ini kedepannya memang sangat diperlukan edukasi terkait bencana alam.

“Perlu adanya edukasi terkait bencana alam sejak dini. Hal ini bisa diaplikasikan serta diterapakan langsung kepada anak-anak di Sekolah Melalui mata pelajaran muatan lokal (Mulok),” tutur Dr. Syamsu Rijal.

Bukan hanya itu saja, pihaknya juga mengatakan bahwa dalam edukasi bencana alam bisa mengajarkan kepada anak-anak sekolah, terkait bagaimana cara menghadapi bencana, bagaimana posisi yang harus dilakukan ketika bencana datang menerjang dan sebagainya.

Perlu diketahui bahwa sebenarnya di Indonesia terkhusus Luwu Utara belum memiliki jalur edukasi seperti yang tadi dijelaskan dan juga belum memiliki jalur khusus evakuasi yang bisa digunakan ketika bencana tiba-tiba menerjang.

Dengan demikian, Dr. Syamsu Rijal mengungkap bahwa terkait hal tersebut nantinya akan dibicarakan lebih lanjut bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Turut menjadi pembicara, yakni Bupati Luwu Utara, Indah Putri Indriani. Saat membawakan materi pihaknya juga tak lupa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak baik Pemprov, pemkab serta seluruh pihak lainnya yang turut berkontribusi dalam menanggulangi bencana yang terjadi di Luwu Utara.

“Jika tidak dilakukan mitigasi atau pemulihan wilayah dengan sesegera mungkin. Kemungkinan besar sumber daya Lutra akan semakin rusak maka akan lebih menyeramkan kedepannya,” tutur Bupati Indah.

Berdasarkan BMKG telah memprediksi bahwa curah hujan di Kabupaten Luwu Utara akan terjadi sepanjang tahun. Hujan akan terus menerus membasahi lahan wilayah Luwu Utara. Bahkan hulu kondisi lahan tanah dianggap tidak bersahabat dengan hujan.

“Jadi kita harus siap menerima tantangan terbesar yang akan datang pasca banjir bandang Luwu Utara. Apalagi sekarang masih dalam masa tangga darurat. Karena curah hujan juga yang masih sangat darurat,” tutup Indah.

Dalam diskusi online tersebut terlihat beberapa peserta yang juga turut serta mendengarkan diskusi yang dibawakan oleh beberapa pihak penting. Jumlah pesertanya kurang lebih 100 orang. Dalam diskusi, peserta juga dipersilahkan untuk memberikan pertanyaan kepada beberapa pembicara.

ads

Video

Comment