Ini Cerita Artis Karo Pinta Bangun Lepas Narkoba Karena Mujizat Tuhan

ads

 Tajuk Utama, Karo — Pinta Bangun seorang Seniman Karo yang ngetop pada zamannya. Pinta Bangun kelahiran 17 mei 1951 di Medan ini merupakan Ayah dari empat orang anak. Ia adalah seorang  artis legendaris Karo,  penyanyi dan pencipta lagu. Dua Lagu nya yang berjudul ” Pengadilen Ngena Ate” dan ” Dareh Megara ” yang di nyanyikannya sendiri sempat mengguncang dunia artis karo pada tahun 80 an dari puluhan lagu lagunya yang lain. Pinta bangun terjun ke dunia seniman karo saat dia menginjak umur yang ke 20.

Namun perjalanan karirnya tidak selalu mulus, dia terjerat ke dunia narkoba jenis exstasi dan sabu pada tahun 1995 sampai 2014. Tidak mudah baginya untuk melepaskan jerat narkoba yang sudah mengikatnya selama kurang lebih 20 tahun. Tapi kini Pinta Bangun sudah 5 tahun melepaskan Narkoba karena Muzizat Tuhan katanya saat di temui Tajukutama.com di salah satu warung kopi kabanjahe Kabupaten Karo, Kamis (22/8/2019)

Pinta bangun menceritakan awal dirinya masuk ke dunia narkoba, karena mengikuti zaman, awalnya dugem bersama teman teman semasa jaya jayanya di dunia artis Karo. Tapi hal itu lah yang membawanya ke dalam dunia ilusi yang membuatnya merasa hebat dan menghentikan karyanya secara perlahan.

ads

“Dalam 20 tahun ia terjerat, hal tersebut mengakibatkan banyak sekali karya – karyanya terhambat, akhlak dan iman jatuh, merasa paling hebat tapi bodoh,” ujarnya sambil tertawa.

“Saya sempat seperti orang gila. Bahkan  pernah menaiki angkot sampai membuka celana, dan lupa menjaga nama baik karena saat itu saya sudah gila. Setelah melalui itu samua saya bisa simpulkan bahwa setiap orang pemakai narkoba adalah orang gila,” katanya tegas.

Sambung Pinta, yang paling menyedihkan saat saya melupakan orang – orang yang sayang seperti keluarga, dan teman dekat. Dulu Sabu adalah yang paling utama dalam hidup saya. Bangun pagi yang dicari adalah Bong, bahasa kami mompa (memakai sabu) padahal uang tidak ada.  Secara logika bila tidak ada uang pasti sudah mencari uang dengan segala cara seperti menipu,  merampok, honor saya menyanyi pun habis untuk beli sabu kenangnya.

Saya berhenti di tahun 2014, hal yang membuat saya berhenti kala itu, tiba tiba di suatu hari saya merenung sendiri, dan menangisi diri setelah menyadari apa yang terjadi.  Di situlah saya mencari diri, “siapa saya?”. membuatku sadar bila ada saya, berarti ada Dia ( Tuhan Maha Pencipta ) yang menciptakan. Di situlah saya bergumul dengan perbuatan dan iman. mendekatkan diri kepada Tuhan, berdoa dan berpuasa melawan nafsu kehendak. Dan ada seorang yang berjasa dalam pertobatan yaitu adek saya sendiri yang bernama Paten Bangun namun saat ini dia sudah meninggal.

Maka disini saya sampaikan kepada semua masyarakat khususnya masyarakat Karo, saya sangat menangis melihat kondisi kabupaten ini sekarang. Saya dengar dari BNN Pusat Tanah Karo sudah menjadi pengguna narkoba terbanyak di Sumut. Saya selaku mantan pemakai siap sangat sedih mendengar dan melihat ini di Bumi Turang.

Pinta Bangun pun menunjukkan catatan kecilnya ke awak media, lihat ini ucapnya sambil menjelaskan tulisanya  bahwa, 1 ons sama dengan 100 gram sedangkan, 1 kilo gram sama dengan 1000 gram dan biasanya 1 gram untuk konsumsi lima orang pemakai. Kita tahu di Tanah Karo ada 269 Desa. Kita contohkan saja setiap desa ada 5 orang pemakai narkoba jenis sabu, berarti satu Desa sudah mengkonsumsi 1 gram sabu – sabu dari jumlah itu saja sudah menghabiskan 269 gram sabu untuk Tanah Karo per harinya, sementara setahu saya harga sabu di Tanah Karo Rp.  1.000.000/ gram, hitungan kita ini adalah hitungan kecil saja, kita tahu sendiri bahwa Tanah Karo merupakan pengguna Narkoba yang terbanyak di Sumut.

“Kondisi inilah yang membuat saya menangis dan menurut perhitungan saya setiap desa jika di rata ratakan jumlah pemakai paling sedikit 10 orang setiap Desa. Maka bisa simpulkan ada uang sekitar Rp 500.000.000 di bakar setiap hari untuk keperluan Narkoba jenis Sabu sabu,” tutupnya. (Surbakti)

ads

Video

Comment